Buah dari Keikhlasan

January 6, 2013

Jika seseorang kuat keikhlasannya dalam setiap amalan, maka dia akan mencapai derajat yang tertinggi di sisi Allah. Abu Bakar bin ‘Ayyas rahimahullah mengatakan: “Tidaklah Abu Bakar (ash-Shiddiq) mengungguli kita karena banyak shalat atau banyak puasa, akan tetapi karena keimanan yang menghujam dalam ke hatinya dan ketulusannya kepada sesama.

Dan dalam perkara ini ‘Abdullah bin al-Mubarak rahimahullah mengatakan: “Terkadang amalan kecil menjadi besar dengan sebab niat yang benar, dan amalan besar menjadi kecil dengan sebab niat yang salah.” Dan amal yang sedikit akan mendapat pahala berlipat ganda jika di dasari niat yang ikhlas, Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Barangsiapa bersedekah dengan sebutir kurma dari hasil usaha yang baik, dan Allah memang tidak menerima kecuali yang baik, sungguh Allah akan menerima sedekah itu dengan tangan kanan-Nya, kemudian Allah akan menjadikannya besar sebagaimana salah seorang dari kalian membesarkan anak kuda yang masih kecil, sampai yang disedekahkan itu menjadi seukuran gunung yang besar.” (Muttafaqun ‘alaih)

Berkenaan dengan firman Allah yang artinya: “Allah melipatgandakan (ganjaran) bagi siapa yang Dia kehendaki. Dan Allah Maha Luas (karunia-Nya) lagi Maha Mengetahui.” (QS. Al-Baqarah: 261) Ibnu katsir mengatakan: “Yaitu tergantung dengan keikhlasannya dalam beramal.” (Tafsir Ibnu Katsir 1 / 317)

Jika seseorang memiliki keikhlasan yang kuat, niat yang agung dan tidak menampakkan amal shalih yang memang disyariatkan untuk dirahasiakan, maka dia akan dekat dengan Rabbnya dan akan dinaungi oleh Rabbnya di bawah naungan ‘Arsy-Nya. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Ada tujuh golongan manusia yang akan dinaungi oleh Allah dalam naungan-Nya.” kemudian beliau menyebutkan bahwa salah satunya ialah: “Seseorang yang bersedekah dan dia merahasiakannya sampai tangan kirinya tidak mengetahui apa yang diinfakkan oleh tangan kanannya.” (Muttafaqun ‘alaih)

Amal Shalih -Walaupun Sedikit- Akan Penuh Berkah Dengan Keikhlasan

Jika seseorang mengikhlaskan niatnya dalam mengerjakan amal shalih walaupun tak seberapa, maka sungguh Allah akan menerima dan melipat gandakan amalan itu. Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Sungguh aku melihat seorang laki-laki berlalu lalang di surga karena memotong sebatang pohon yang melintang di tengah jalan, yang telah mengganggu kaum muslimin.” (HR. Muslim)

Dalam riwayat yang lain beliau bersabda: “Ada seorang laki-laki melewati ranting pohon yang melintang di tengah jalan, kemudian dia berkata: “Demi Allah, aku akan menyingkirkan ranting ini dari jalan kaum muslimin agar tidak mengganggu mereka.” Maka dia dimasukkan ke surga dengan sebab itu.

Dengan sebab keikhlasan yang menyertai amalannya yang ringan itu, Allah memasukkannya ke surga dengan rahmat-Nya.

Kemudian renungkanlah kisah seseorang pezina yang telah melakukan pelbagai perbuatan keji, kemudian mengerjakan amalan shalih yang dianggap tak seberapa oleh manusia, yaitu memberi minum seekor anjing. Allah mengampuninya dengan sebab itu, padahal dia telah melakukan perbuatan yang sangat keji yaitu zina. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Suatu ketika ada seekor anjing sedang berputar-putar di pinggir sumur, dan anjing itu hampir mati kehausan. Tiba-tiba ada seorang pezina dari bani israil melihatnya, lalu dia mencopot sepatunya kemudian mengambil air dengan sepatunya itu dan memberi anjing itu minum, maka Allah mengampuninya dengan perbuatan tersebut.” (Muttafaqun ‘alaih)

Dengan Niat Yang Benar, Pahala Amal Akan Diperoleh Walaupun Belum Dikerjakan

Dermawan adalah salah satu sifat Allah. Seorang hamba ketika memiliki niat yang benar namun belum mampu mengerjakan apa yang dia niatkan  karena mendapati beberapa kendala, dia akan diberi pahala atas amalan itu walaupun dia tidak mengerjakannya. Dan ini adalah karena kemurahan dan keutamaan dari Allah. Jabir bin ‘Abdillah radhiallahu ‘anhu mengatakan:

Kami pernah bersama Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dalam sebuah peperangan, kemudian beliau bersabda: “Sesungguhnya ada orang-orang di Madinah, yang tidaklah kalian melewati satu jalan ataupun satu lembah kecuali mereka selalu bersama kalian, mereka terhalang suatu penyakit.

Dalam riwayat yang lain beliau bersabda:

Kecuali mereka juga ikut mendapatkan pahala seperti kalian.” (HR. Muslim)

Dan diriwayatkan oleh Imam Bukhari rahimahullah dari Anas radhiallahu ‘anhu dia berkata:

Ketika kami kembali dari perang Tabuk bersama Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, Beliau bersabda: “Sesungguhnya ada beberapa kaum di belakang kita di Madinah, yang tidaklah kita melewati satu jalan ataupun satu lembah kecuali mereka selalu menyertai kita, mereka terhalang oleh uzur.”

Dan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam mengatakan tentang seseorang yang tidak memiliki harta namun ingin sekali bersedekah, sampai-sampai  berucap: “Seandainya aku memiliki harta niscaya aku akan beramal seperti si fulan”, maka Beliau bersabda tentangnya: “Maka dia tergantung dengan niatnya itu, dan pahala mereka berdua sama.” (HR. Tirmidzi, dan Imam Tirmidzi mengatakan: “Hadits ini derajatnya hasan shahih.”)

Dalam Shahih Bukhari dan Shahih Muslim, diriwayatkan dari Ibnu ‘Abbas radhiallahu ‘anhuma, dari Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam , dan beliau meriwayatkan dari Rabbnya tabaaraka wa ta’ala, bahwa Allah berfirman :

Sesungguhnya Allah telah menentukan segala kebaikan dan kejelekan kemudian menjelaskannya, dan barangsiapa bertekad ingin mengerjakan satukebaikan namun tidak jadi mengerjakan-nya maka Allah akan menulisnya sebagai satu kebaikan yang sempurna di sisi-Nya. Dan barangsiapa bertekad ingin mengerjakan satu kebaikan kemudian dia berhasil mengerjakannya maka Allah akan menulis dengan melipat gandakannya menjadi sepuluh kebaikan sampai tujuh ratus kebaikan bahkan sampai berlipat ganda menjadi kebaikan yang banyak.

Maka seorang muslim adalah yang menjadikan niatnya lurus pada setiap amal kebajikan. ‘Umar bin al-Khattab radhiallahu ‘anhu mengatakan: “Amal yang paling utama adalah niat yang benar dalam setiap perkara yang ada di sisi Allah.” Maka barang siapa ingin memiliki amal yang sempurna,  hendaklah dia membenarkan niatnya, karena sesungguhnya Allah akan memberi pahala kepada seseorang ketika niatnya benar, sampai-sampai dalam perkara menyuapkan makanan. Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Tidaklah engkau menafkahkan sesuatu pun dengan mengharap wajah Allah, kecuali engkau akan diberi pahala atasnya, sampai makanan yang engkau suapkan ke mulut istrimu.” (Muttafaqun ‘alaih)

Zubaid al-Yaami rahimahullah mengatakan:

Berniatlah engkau (dengan ikhlas) dalam segala perkara yang engkau inginkan kebaikan padanya, walaupun engkau keluar hanya untuk membuang sampah.

Dawud ath-Thaai rahimahullah mengatakan: “Aku memandang bahwa seluruh kebaikan hanya akan terkumpul dengan niat yang benar.” Dan para salafus shalih amat menganjurkan untuk membenarkan niat dalam setiap perkara yang baik, Yahya bin Katsir mengatakan: “Pelajarilah niat, karena sesungguhnya niat itu lebih menyampaikan daripada amalan itu sendiri.

Buah Keikhlasan

Amal shalih tidak akan diterima kecuali jika dikerjakan dengan niat yang murni karena Allah. Tanpa keikhlasan, amal shalih akan tertolak berapa pun banyaknya. Dan keikhlasan -dengan izin Allah- menghalangi setan untuk menguasai seorang hamba. Allah  subhanahu wa ta’ala berfirman mengisahkan tentang Iblis, yang artinya: “Iblis menjawab: “Demi kekuasaan-Mu aku akan menyesatkan mereka semuanya, kecuali hamba-hamba-Mu yang ikhlas di antara mereka.” (QS. Shaad: 82-83)

Orang yang ikhlas akan terpelihara dari perbuatan-perbuatan maksiat dan kejelekan-kejelekan, dengan pemeliharaan dari Allah. Allah  berfirman mengisahkan tentang Nabi Yusuf ‘alaihi salam, yang artinya: “Demikianlah, agar Kami memalingkan dari padanya kemungkaran dan kekejian. Sesungguhnya Yusuf itu termasuk hamba-hamba Kami yang terpilih.”(QS. Yusuf:  24)

Niat yang ikhlas akan meninggikan derajat dan membuka pintu-pintu kebaikan yang banyak. Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

Sesungguhnya engkau tidaklah tertinggal dalam keadaan mengerjakan amalan dengan mengharap wajah Allah kecuali derajat dan kedudukanmu akan bertambah mulia.” (Muttafaqun ‘alaih)

Dan Keikhlasan Akan Menyelamatkan Seseorang

Dalam sebuah riwayat dikatakan bahwa Ikrimah bin Abu Jahal ketika fathu makkah melarikan diri dengan menaiki sebuah perahu, namun kemudian perahu itu diterjang badai. Maka pemilik perahu berkata kepada orang-orang yang berada di atas perahu tersebut: “Ikhlaskanlah niat kalian, karena sembahan-sembahan kalian tidak bisa menolong kalian sedikit pun di sini!” Maka Ikrimah berkata: “Demi Allah, jika tidak ada yang bisa menyelamatkanku di lautan ini kecuali keikhlasan maka demikian pula di daratan, tidak ada yang bisa menyelamatkanku selain keikhlasan. Ya Allah, sesungguhnya Engkau telah berjanji kepadaku, untuk mengampuniku atas segala dosa yang pernah aku lakukan, dan Engkau telah berjanji jika aku datang kepada Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam kemudian membaiatnya, aku akan dapati bahwa dia adalah orang yang pemaaf dan mulia.” Maka Ikrimah pun datang kepada Nabi dan masuk islam. (Sunan an-Nasai 7/105)

Sumber: Khutuwat Ila Sa’adah karya DR. Abdul Muhsin bin Muhammad al-Qasim

Silahkan Download File Pdf: Download

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *