Bercahaya dengan Wudhu

June 12, 2015

Definisi dan Dalil

Wudhu menurut bahasa berasal dari kata al-wadhoo`ah yang berarti kebersihan dan kecerahan. Adapun menurut istilah, ia adalah penggunaan air pada anggota-anggota badan tertentu (wajah, kedua tangan, kepala dan kedua kaki) sehingga apa yang menghalangi seseorang untuk mengerjakan shalat dan ibadah lain semisalnya menjadi hilang.

Dalil yang menunjukkan syari’at wudhu terdapat di dalam Al-Quran, Sunnah dan Ijma. Dalil dari Al-Quran adalah firman Allah Taala, “Hai orang-orang yang beriman, apabila kamu hendak mengerjakan shalat, maka basuhlah mukamu dan tanganmu sampai dengan siku, dan sapulah kepalamu dan (basuh) kakimu sampai dengan kedua mata kaki..” (QS. al-Maaidah: 6) Adapun dalil dari Sunnah Nabi shallallahu alaih wa sallam, di antaranya adalah:

– Sabda Nabi shallallahu alaih wa sallam, “Tidak diterima shalat salah seorang dari kalian, apabila ia berhadats, sampai ia berwudhu.” (HR. al-Bukhari 135)

– Sabda Nabi shallallahu alaih wa sallam, “Allah tidak akan menerima shalat (yang dilakukan) tanpa bersuci, dan sedekah (yang diberikan) dari hasil khianat.” (HR. Muslim 224)

– Sabda Nabi shallallahu alaih wa sallam, “Sesungguhnya aku diperintah untuk berwudhu apabila hendak mendirikan shalat.” (HR. at-Tirmidzi 1848)

– Sabda Nabi shallallahu alaih wa sallam, “Kunci shalat adalah bersuci, tahrimnya dengan takbir, dan tahlilnya dengan salam.” (HR. at-Tirmidzi 3)

Sedangkan dalil dari Ijma’, para ulama kaum muslimin telah bersepakat bahwa shalat tidaklah sah kecuali dengan bersuci, apabila memang tersedia sarana untuk itu.

 

Keutamaan Wudhu

Di antara keutamaan wudhu adalah:

– Wudhu merupakan setengah dari keimanan sebagaimana disebutkan dalam hadits Abu Malik al-Asy’ari radhiyallahu anhu, ia berkata, “Rasulullah shallallahu alaih wa sallam bersabda, “Bersuci adalah setengah keimanan..” (HR. Muslim 223)

– Wudhu menghapus dosa-dosa kecil. Rasulullah shallallahu alaih wa sallam bersabda, “Apabila seorang hamba muslim –atau mukmin- berwudhu, maka ketika ia mencuci wajahnya, keluarlah dari wajahnya setiap dosa yang ia lihat bersama dengan tetesan air wudhu. Ketika ia mencuci kedua tangannya, keluarlah dari kedua tangannya setiap dosa yang diperbuat tangan tersebut bersama dengan tetesan air wudhu. Dan ketika ia mencuci kedua kakinya, keluarlah dari kedua kakinya setiap dosa yang telah dilakukan, bersama dengan tetesan air wudhu. Hingga ketika selesai berwudhu, ia dalam keadaan bersih dari dosa.” (HR. Muslim 244) Dan dari Utsman bin ‘Affan radhiyallahu anhu, bahwa Nabi shallallahu alaih wa sallam bersabda, “Barangsiapa berwudhu seperti itu niscaya akan diampuni dosa-dosanya yang telah lalu.” (HR. Muslim 229)

Keutamaan di atas lebih ditegaskan lagi bagi orang yang setelah berwudhu, ia melakukan shalat. Entah itu shalat wajib ataupun shalat sunnah. Nabi shallallahu alaih wa sallam bersabda, “Barangsiapa berwudhu seperti wudhuku ini, kemudian mengerjakan shalat dua rakaat yang dalam dua rakaat itu ia tidak berbicara dengan dirinya, niscaya akan diampuni dosanya yang telah lalu.” (HR. Muslim 6433)

– Wudhu mengangkat derajat seorang hamba. Nabi shallallahu alaih wa sallam bersabda, “Maukah kalian aku tunjukkan perkara yang dengannya Allah akan menghapus dosa dan mengangkat derajat?” Mereka menjawab, “Ya, wahai Rasulullah.” Beliau bersabda, “Menyempurnakan wudhu pada saat yang tidak disukai, memperbanyak langkah ke masjid, menanti shalat setelah shalat. Yang demikian itulah ribath (bersiap siaga di jalan Allah), yang demikian itulah ribath, yang demikian itulah ribath.” (HR. Muslim 251)

– Wudhu adalah jalan menuju surga. Nabi shallallahu alaih wa sallam pernah berkata kepada Bilal, “Wahai Bilal, beritahu aku amalan yang telah kau perbuat setelah memeluk Islam, yang paling kau harapkan pahalanya. Karena aku mendengar derap kedua alas kakimu di hadapanku di surga?” Bilal berkata, “Tidak ada amalan (yang telah aku perbuat), yang lebih aku harapkan pahalanya selain daripada wudhu yang tidaklah aku melakukannya di satu waktu, baik malam ataupun siang, melainkan aku shalat sesuai dengan shalat yang telah ditetapkan untuk aku kerjakan dengan wudhu tersebut.” (HR. al-Bukhari 1149) Nabi shallallahu alaih wa sallam bersabda, “Barangsiapa berwudhu dengan menyempurnakannya, kemudian shalat dua rakaat dalam keadaan ia hadapkan wajah dan hatinya dalam dua rakaat itu, maka ia akan mendapatkan surga.” (HR. Muslim 234)

– Wudhu adalah tanda yang membedakan umat Nabi Muhammad shallallahu alaih wa sallam ketika manusia mendatangi telaga al-Kautsar di akhirat. Ketika datang ke sebuah pemakaman, Nabi shallallahu alaih wa sallam bersabda, “Assalamu alaikum, wahai penduduk negeri orang-orang beriman, insya Allah kami akan menyusul kalian sebentar lagi. Ingin sekali rasanya kami bisa melihat saudara-saudara kami.” Para sahabat bertanya, “Bukankah kami adalah saudaramu, wahai Rasulullah?” Beliau bersabda, “Kalian adalah sahabatku, saudara-saudara kita adalah mereka yang datang sepeninggal kita.” Mereka bertanya, “Bagaimana engkau mengenali umatmu yang belum ada saat ini, wahai Rasulullah?” Nabi bersabda, “Bagaimana pendapat kalian seandainya ada seorang pria yang memiliki kuda dengan kaki dan wajah (muka) berwarna putih sedang berada di sekumpulan kuda berwarna hitam. Bukankah ia akan mengenali kuda miliknya?” Mereka menjawab, “Ya, wahai Rasulullah.” Beliau bersabda, “Sungguh mereka (umatku) akan datang dalam keadaan tangan, kaki dan wajahnya bercahaya karena wudhu. Dan aku akan menanti mereka di telaga.” (HR. Muslim 234)

– Wudhu adalah cahaya seorang hamba pada hari kiamat. Nabi shallallahu alaih wa sallam bersabda, “Anggota tubuh seorang mukmin pada hari kiamat akan bercahaya sesuai dengan sampai mana air wudhu mengenai anggota tubuhnya.” (HR. Muslim 250)

– Wudhu dapat melepas ikatan setan. Nabi shallallahu alaih wa sallam bersabda, “Setan mengikat tengkuk kepala salah seorang dari kalian ketika tidur dengan tiga ikatan. Pada setiap ikatan itu, setan berkata, “Engkau masih memiliki malam yang panjang, maka tidurlah.” Apabila ia bangun kemudian berzikir mengingat Allah, terlepaslah satu ikatan. Apabila kemudian ia berwudhu, terlepaslah satu ikatan lagi. Apabila ia shalat, terlepaslah lagi satu ikatan. Dan jika demikian, di pagi hari itu ia akan merasa segar dan tenang. Namun jika tidak, ia akan merasa tidak enak dan malas.” (HR. al-Bukhari 1142)

 

Tata Cara Wudhu

Diriwayatkan dari Humran bahwa ia melihat Utsman bin Affan meminta wadah berisi air, kemudian menuangkan air ke kedua telapak tangannya sebanyak tiga kali lalu mencucinya. Kemudian ia memasukkan tangan kanan ke wadah tersebut (untuk menciduk), lalu berkumur-kumur, memasukkan air ke hidung dan mengeluarkannya, dan mencuci wajah sebanyak tiga kali. Kemudian mencuci kedua tangan sampai siku tiga kali. Kemudian mengusap kepala. Lalu mencuci kedua kaki sampai mata kaki tiga kali. Kemudian Utsman berkata, “Rasulullah shallallahu alaih wa sallam bersabda, “Barangsiapa berwudhu seperti wudhuku ini, kemudian shalat dua rakaat dalam keadaan tidak berbicara dengan dirinya pada dua rakaat itu, niscaya akan diampuni dosanya yang telah lalu.” (HR. al-Bukhari 158)

Dari hadits di atas dan yang lainnya, dapat kita simpulkan tata cara wudhu sebagai berikut:

  1. Niat berwudhu untuk menghilangkan hadats.
  2. Mengucap bismillah.
  3. Mencuci kedua telapak tangan tiga kali.
  4. Mengambil air dengan tangan kanan dan memasukkannya ke hidung dan mulut dengan satu cidukan, kemudian mengeluarkan air dari hidung dengan tangan kiri. Ini dilakukan sebanyak tiga kali.
  5. Mencuci seluruh bagian wajah sebanyak tiga kali sambil menyela-nyela jenggot.
  6. Mencuci kedua tangan -dimulai dengan tangan kanan- sampai siku sambil menyela-nyela jari-jemari kedua tangan (sebanyak 3 kali).
  7. Membasuh seluruh bagian kepala dari depan kemudian ke belakang dan kembali lagi ke depan sebanyak satu kali.
  8. Membasuh kedua daun telinga punggung dan dalamnya
  9. Mencuci kedua telapak kaki sampai mata kaki -kanan terlebih dahulu kemudian kiri- sambil menyela-nyela jari kaki (dilakukan 3 kali).

 

Niat: Syarat Sah Wudhu

Disyaratkan niat untuk keabsahan wudhu. Niat adalah tekad hati untuk mengerjakan wudhu demi menunaikan perintah Allah dan Rasul-Nya seperti segenap ibadah mahdhah yang lain. Allah Taala berfirman, “Padahal mereka tidak disuruh kecuali supaya menyembah Allah dengan memurnikan ketaatan kepada-Nya dalam (menjalankan) agama yang lurus.” (al-Bayyinah: 5) Nabi shallallahu alaih wa sallam bersabda, “Sesungguhnya amal itu tergantung dengan niatnya, dan setiap orang akan mendapatkan apa yang ia niatkan.” (HR. al-Bukhari 1) Inilah pendapat yang dipegang oleh Malik, Syafii, Ahmad, Abu Tsaur dan Dawud. Sedangkan Abu Hanifah berpendapat bahwa niat tidak disyaratkan dalam wudhu, dengan alasan wudhu adalah ibadah yang dapat dipahami tujuannya, bukan ibadah yang dimaksudkan pada dirinya sendiri, sehingga ia mirip dengan bersuci dari najis. Namun yang benar adalah pendapat jumhur ulama, sebab nas yang ada menunjukkan bahwa wudhu memiliki ganjaran pahala, dan telah disepakati secara ijma bahwa pahala tidak akan diperoleh jika suatu amalan dilakukan tanpa niat. Juga karena wudhu adalah ibadah yang tidak diketahui tata caranya kecuali dengan syariat, sehingga niat adalah salah satu syarat dalam ibadah yang seperti itu.

 

Tempat Niat di Hati

Syaikhul Islam rahimahullaah mengatakan, “Niat tempatnya di hati, bukan di lisan, berdasarkan kesepakatan para imam kaum muslimin, dalam segenap ibadah: thaharah, shalat, zakat, puasa, haji, membebaskan budak, jihad dan selainnya..”

Dengan demikian, tidak disyariatkan mengeraskan pengucapan niat dan mengulang-ngulangnya. Sebab Nabi shallallahu alaih wa sallam dan para sahabat tidak pernah mengucapkan/melafalkan niat secara mutlak. Tidak ada riwayat yang dihafal dari mereka tentang hal itu. Seandainya perkara tersebut disyariatkan, niscaya Allah akan menjelaskannya melalui lisan Rasul-Nya shallallahu alaih wa sallam. Dan juga tidak ada kebutuhan untuk melafalkan niat, karena Allah Maha Mengetahui niat seorang hamba.

 

(Shahih Fiqh Sunnah, Abu Malik Kamal)

Silahkan Download File Pdf: Download

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *