Keutamaan Imam Shalat

  • Teladan dalam kebaikan

Seorang imam dalam shalat adalah orang yang diikuti dalam kebaikan. Diikuti/diteladani dalam kebaikan adalah sebuah keutamaan. Dalilnya adalah firman Allah Azza wa Jalla berkenaan dengan sifat ‘ibaadurrahman (para hamba Allah) yang berdoa, “Ya Tuhan kami, anugrahkanlah kepada kami isteri-isteri kami dan keturunan kami sebagai penyenang hati (kami), dan jadikanlah kami imam bagi orang-orang yang bertakwa.” (al-Furqan 74) Maknanya, jadikanlah kami pemimpin-pemimpin yang diteladani dalam kebaikan. Ada juga yang mengatakan bahwa maknanya adalah jadikanlah kami pembimbing yang terbimbing, yang menyeru kepada kebaikan. Maka mereka meminta kepada Allah agar menjadi pemimpin dalam ketakwaan yang diteladani oleh orang-orang yang bertakwa.

 

  • Imam dalam shalat mendapat doa dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam

Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Seorang imam adalah penanggung jawab, sedangkan muadzin adalah pengemban amanah. Ya Allah, bimbinglah para imam dan ampunilah para muadzin.” (HR. Abu Dawud 517)

 

  • Imam dalam shalat adalah perkara penting, bukan perkara sembarangan

Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Mereka shalat untuk kalian, apabila mereka benar maka pahalanya untuk kalian dan juga mereka. Apabila mereka salah/keliru maka pahalanya untuk kalian, sedangkan dosanya untuk mereka.” (HR. al-Bukhari 694) Maknanya, apabila para imam sudah benar dalam mengerjakan rukun, syarat, kewajiban dan sunah shalat, maka kalian mendapat pahala shalat kalian dan mereka juga mendapat pahala shalat mereka. Akan tetapi apabila mereka melakukan kesalahan dalam shalat, maka kalian mendapat pahala shalat kalian sementara dosa/kesalahan itu akan ditanggung oleh mereka. (Fathul Baari 2/187) ‘Uqbah bin Amir radhiyallahu ‘anhu berkata, “Aku mendengar Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Barangsiapa mengimami orang banyak dan waktunya tepat, maka pahalanya untuknya dan untuk mereka. Dan siapa yang mengurangi sedikit daripadanya, maka dosa itu akan ditanggung olehnya, tidak oleh mereka.” (HR. Ahmad 154) Beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam juga bersabda, “Seorang imam adalah penanggung jawab, apabila ia berlaku baik maka pahalanya untuknya dan untuk mereka (makmum). Apabila ia berlaku buruk, maka dosa tersebut akan ditanggung olehnya, tidak oleh mereka.” (HR. Ibnu Majah 981)

 

Orang yang sepantasnya menjadi imam

Orang yang dijadikan imam hendaknya dilihat dari beberapa perkara yang telah ditentukan oleh Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Didahulukan yang paling baik dalam membaca Alquran, kemudian yang paling mengerti tentang sunah, kemudian yang paling dahulu berhijrah, kemudian yang paling dahulu masuk Islam dan terakhir yang paling tua usianya. Hal ini berdasarkan hadits Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, “Hendaknya yang menjadi imam adalah yang paling banyak hafal Alquran. Apabila mereka sama dalam hal bacaan Alquran, maka yang paling berilmu tentang sunah. Apabila mereka sama dalam hal pengetahuan tentang sunah, maka yang paling dahulu hijrah. Apabila mereka sama dalam hal hijrah, maka yang paling dahulu masuk Islam.” Dalam riwayat yang lain, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam mengatakan yang terakhir adalah yang paling tua usianya. (HR. Muslim 673)

Adapun sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, “Apabila telah datang waktu shalat, hendaknya salah seorang di antara kalian adzan dan yang menjadi imam adalah orang yang paling tua usianya!” (Muttafaqun ‘alaih) Pada hadits ini, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam lebih mendahulukan orang yang paling tua usianya untuk menjadi imam, karena mereka semua sama dalam perkara-perkara yang disebutkan di atas. Mereka hijrah bersama-sama, menemani dan bermulazamah kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam selama 20 malam, sehingga mereka semua sama dalam hal mengambil ilmu dari beliau dan tidak ada yang bisa dibedakan selain usia.

 

Adab-adab Imam

  • Mengambil sutroh (pembatas –pent.) karena sutroh imam adalah sutroh untuk makmum

Abu Said al-Khudriy radhiyallahu ‘anhu mengatakan, “Apabila salah seorang dari kalian shalat, maka hendaknya ia shalat dengan sutroh, dan mendekat kepadanya.” (HR.Abu Dawud 698) Ibnu Abbas radhiyallahu ‘anhu pernah berjalan dengan keledainya di antara shaf awal makmum, kemudian turun darinya, dan tidak ada yang mengingkari. (Muttafaqun ‘alaih) Ini menunjukkan bahwa sutroh Imam adalah sutroh bagi makmum di belakangnya.

 

  • Meringankan shalat dengan tetap mengindahkan kelengkapan dan kesempurnaan shalat

Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Apabila salah seorang dari kalian menjadi imam bagi orang banyak, maka ringankanlah (shalat)! Karena di antara mereka ada anak kecil, orang yang lemah, orang yang sakit, dan orang yang sedang ada keperluan. Jika kalian shalat sendiri, maka shalatlah sesuka hati kalian.” (Muttafaqun ‘alaih)

 

  • Menjadikan rakaat pertama lebih panjang daripada rakaat kedua

Abu Said al-Khudriy radhiyallahu ‘anhu, berkata, “Bahwasanya shalat dzuhur ditegakkan, kemudian ada orang yang pergi ke Baqi menunaikan keperluannya, kemudian menemui keluarganya, lalu berwudhu dan kembali lagi ke masjid sedangkan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam masih pada rakaat pertama karena beliau memanjangkannya.” (HR. Muslim 454)

 

  • Memanjangkan dua rakaat pertama dan memendekkan dua rakaat terakhir pada semua shalat

Hal ini berdasarkan riwayat dari Jabir bin Samurah radhiyallahu ‘anhu yang di dalamnya terdapat perkataan Sa’ad radhiyallahu ‘anhu kepada Umar bin al-Khaththab radhiyallahu ‘anhu, “Sesungguhnya aku shalat menjadi imam mereka seperti Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam; dua rakaat pertama aku panjangkan dan dua rakaat terakhir aku pendekkan. Dan aku tidak abaikan satupun perkara dari shalat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam yang aku teladani.” (Muttafaqun ‘alaih)

 

  • Mempertimbangkan kondisi makmum dengan syarat tidak menyelisihi sunnah Rasul shallallahu ‘alaihi wa sallam

Jabir bin Abdillah radhiyallahu ‘anhu berkata, “Shalat Isya itu kadang didahulukan kadang diakhirkan. Apabila beliau melihat para sahabat telah berkumpul/datang beliau menyegerakannya. Dan apabila beliau melihat mereka belum berkumpul, beliau akan mengakhirkannya.” (Muttafaqun ‘alaih) Shalat Isya sesungguhnya disunnahkan untuk diakhirkan. Akan tetapi beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam mempertimbangkan keadaan para sahabat, dan tidak ingin menyulitkan mereka. Sehingga beliau menyegerakannya saat melihat mereka telah berkumpul/datang. Adapun selain shalat Isya, maka beliau mengerjakannya di awal waktu kecuali shalat Dzuhur ketika panas sangat terik.

Dengan ini tampak bahwa keadaan makmum hendaknya menjadi pertimbangan seorang imam. Termasuk dalil yang menunjukkannya adalah perbuatan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam mempercepat shalat ketika mendengar tangisan anak kecil, karena khawatir menyulitkan ibunya; dan memperpanjang rakaat pertama agar orang-orang mendapatkan rakaat pertama. Dapat disimpulkan dari keterangan ini, bahwa ketika imam rukuk, disunnahkan agar ia menunggu makmum yang terlambat agar mereka mendapatkan rukuk tersebut, selama tidak menyulitkan makmum yang lain.

 

  • Tetap di tempatnya sebentar setelah salam

Ummu Salamah radhiyallahu ‘anha mengatakan, “Adalah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam  apabila selesai mengucapkan salam, tetap pada tempatnya sebentar sebelum pergi, dan para makmum wanita pergi setelah beliau selesai mengucap salam.” (HR. al-Bukhari 837)

  • Menghadap ke arah makmum setelah selesai shalat

Samurah bin Jundub radhiyallahu ‘anhu mengatakan, “Adalah Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam ketika selesai mengerjakan shalat, menghadapkan wajahnya ke arah kami.” (HR. al-Bukhari 845) Maknanya, apabila selesai mengerjakan shalat, beliau menghadap ke arah makmum, karena membelakangi makmum adalah hak ketika mengimami mereka. Jika shalat telah selesai, hilanglah sebab tersebut. Dengan menghadap makmum ketika selesai shalat, akan hilang kesombongan dan rasa angkuh terhadap makmum.

  • Tidak berlama-lama duduk menghadap kiblat setelah salam

Aisyah radhiyallahu ‘anha berkata, “Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam tidaklah duduk (menghadap kiblat setelah salam) kecuali sekadar mengucapkan ‘Allahumma antas salaam, tabaarakta ya dzal jalaali wal ikroom’” (HR. Muslim 591) Kemudian beliau menghadap ke arah makmum.

 

Mengajukan diri menjadi imam shalat tidak mengapa jika dengan niat yang baik

Utsman bin Abi al-‘Ash radhiyallahu ‘anhu berkata, “Wahai Rasulullah, jadikanlah aku sebagai imam kaumku!” Maka beliau berkata, “Engkau adalah imam mereka, perhatikan orang yang paling lemah di antara mereka, dan angkatlah seorang muadzin yang tidak meminta upah atas adzannya!” (HR. Abu Dawud 531) Hadits ini menunjukkan bolehnya mengajukan diri sebagai imam dalam kebaikan. Demikian pula doa ‘Ibaadurrahman’ yang Allah sifati mereka dengan sifat-sifat mulia, dalam surat al-Furqaan, ayat ke-74.

Ini tidaklah termasuk meminta kepemimpinan yang dibenci, karena yang dibenci adalah meminta kepemimpinan duniawi, di mana orang yang memintanya tidak akan ditolong dan tidak pantas diberikan kepemimpinan. (al-Imamah fi ash-Shalah, DR. Said bin ‘Ali bin Wahf al-Qhahthaniy)

Silahkan Download File Pdf: Download

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *