Bagian pertama: Hukum Ibadah Non Muslim

Ibadah yang dilakukan oleh non muslim tidak sah, karena Allah Jalla wa ‘Alaa berfirman,“Dan tidak ada yang menghalangi mereka untuk diterima dari mereka nafkah-nafkahnya melainkan karena mereka kafir kepada Allah dan Rasul-Nya..”(QS. at-Taubah: 54) Maka beragama Islam adalah syarat sah sebuah peribadatan. Kendati demikian, orang-orang non muslim tetap terkena perintah untuk menjalankan seluruh ibadah dalam agama Islam. Mereka akan dihukum karena meninggalkannya.

Hal ini berdasarkan firman Allah Taala, “..Apakah yang memasukkan kamu ke dalam Saqar (neraka)?” Mereka menjawab: “Kami dahulu tidak termasuk orang-orang yang mengerjakan shalat, dan kami tidak (pula) memberi makan orang miskin, dan adalah kami membicarakan yang bathil bersama dengan orang-orang yang membicarakannya, dan adalah kami mendustakan hari pembalasan, hingga datang kepada kami kematian.” (QS. al-Muddatsir: 42-47)

Oleh karena itu, yang harus dilakukan oleh seorang muslim terhadap orang kafir adalah menyerunya untuk masuk Islam dengan mengucapkan dua kalimat syahadat. Inilah wasiat yang disampaikan oleh Nabi shallallahu alaih wa sallam kepada Mu’adz ketika mengutusnya ke negeri Yaman. Beliau bersabda, “Sesungguhnya engkau akan mendatangi orang-orang dari kalangan ahli kitab, maka hendaknya perkara pertama yang kau serukan adalah syahadat ‘laa ilaaha illallah, muhammad rasulullah’.” (Muttafaqun ‘Alaih)

 

Hukum Thaharah dan Shalatnya Non Muslim

Pertama, Allah Jalla wa ‘Alaa berfirman, “Hai orang-orang yang beriman, Sesungguhnya orang-orang yang musyrik itu najis.” (QS. at-Taubah: 28) Pendapat yang kuat berkenaan dengan maksud ‘najis’ dalam ayat ini adalah najis maknawi yang disebabkan oleh kekufuran mereka, bukan najis yang bersifat inderawi. Oleh karena itu, diperbolehkan menikahi perempuan-perempuan ahli kitab yang menjaga dirinya, bersalaman dengan mereka ketika mereka yang lebih dahulu menjulurkan tangan, dan memakai pakaian yang mereka jahit, atau bahkan pakaian yang mereka pakai selama tidak terkena najis, sebagaimana pakaian orang muslim.

Kedua, berkaitan dengan wadah makan/minum non muslim. Wadah makan/minum non muslim tidak lepas dari dua keadaan:

  1. Tidak terbuat dari barang yang diharamkan karena zatnya, seperti kulit anjing, babi, cawan emas dan perak. Atau yang diharamkan karena sifatnya, seperti hasil curian atau mengambil tanpa izin. Jika terbuat dari barang yang haram, wadah-wadah itu tidak boleh digunakan. Sebab, seandainya ia milik seorang muslim, tetap tidak boleh digunakan. Apalagi jika ia milik orang kafir.
  2. Terbuat dari bahan yang mubah dan suci, seperti batu, kayu, kaca, besi atau barang-barang tambang yang lain. Jika seorang muslim membelinya dalam keadaan baru, hukum menggunakannya adalah boleh. Namun jika sebelumnya digunakan oleh non muslim untuk memasak, makan dan minum, barang-barang tersebut tidak lepas dari tiga keadaan:
  3. Besar kemungkinan tidak dipakai untuk makanan/minuman haram, sehingga boleh langsung digunakan tanpa harus dicuci terlebih dahulu. Hal ini berdasarkan hadits dari Jabir bin Abdullah radhiyallahu anhuma, dia berkata, “Kami dahulu berperang bersama Rasulullah shallallahu alaih wa sallam, kemudian mendapatkan tempat makan dan tempat minum orang-orang musyrik. Kami pun menggunakannya dan beliau tidak mencela mereka atas hal itu.” (HR. Abu Dawud)
  4. Diyakini sebagai wadah untuk memasak atau tempat makan daging yang diharamkan. Jika didapati ada wadah lain yang suci, wadah-wadah tempat masak/makan itu tidak boleh digunakan. Namun jika tidak didapati wadah yang lain, wadah-wadah yang ada itu wajib dicuci terlebih dahulu untuk menghilangkan bekas-bekas barang haramnya, kemudian boleh digunakan. Hal ini berdasarkan hadits Abu Tsa’labah al-Khusyani, dia berkata, “Wahai Rasulullah, sesungguhnya kami berada di negeri Ahli Kitab, apakah kami boleh makan dengan tempat makan mereka?” Nabi bersabda, “Jika kalian mendapatkan tempat makan yang lain, jangan kalian makan dengannya. Namun jika kalian tidak mendapatkan tempat makan yang lain, maka cucilah dahulu kemudian makanlah dengannya!” (HR. al-Bukhari)
  5. Ragu, tidak ada dugaan kuat tentang bejana-bejana tersebut. Maka bejana-bejana itu dicuci dahulu sebelum digunakan, untuk kehati-hatian.

Dengan dasar perkara di atas, shalat menggunakan pakaian dan permadani yang suci dan mubah buatan mereka adalah boleh.

Ketiga, seorang yang masuk Islam mesti melakukan mandi, berdasarkan hadits Qais bin ‘Ashim bahwa ketika ia masuk Islam, Nabi shallallahu alaih wa sallam memerintahkannya untuk mandi dengan air dan daun bidara. (HR. al-Khamsah kecuali Ibnu Khuzaimah, dan dishahihkan oleh Ibnu Sakan. Hadits ini memiliki syawahid)

Keempat, seorang yang masuk Islam wajib dikhitan walaupun sudah dewasa, kecuali jika dikhawatirkan akan menyebabkan kematian atau sakit. Hal ini untuk menjaga diri dan kesehatan badannya. Khitan adalah sunnah para rasul. Sungguh, Nabi Ibrahim alaih salaam dikhitan pada umur delapan puluh tahun.

Kelima, pada asalnya, shalat di rumah-rumah ibadah non muslim, seperti gereja, sinagog dan semisalnya tidak diperbolehkan. Kecuali jika keadaannya mendesak. Yaitu ketika tidak ada tempat lain untuk dipakai shalat oleh seorang muslim. Misalnya, jika ia ditahan di sana. Jika memungkinkan untuk menyingkirkan gambar atau patung-patung dari hadapannya, maka ia wajib menyingkirkannya. Atau, ia melakukan shalat di salah satu sisi rumah ibadah itu sehingga api, gambar atau patung-patung tersebut tidak berada di kiblatnya.

Keenam, seorang non muslim tidak boleh masuk ke Masjidil Haram secara mutlak, walaupun mendapat izin dari orang-orang muslim, atau ada suatu keperluan, atau dengan tujuan melunakkan hati mereka terhadap agama Islam. Tujuannya adalah untuk menghormati Mekah, terutama Ka’bah.

Adapun untuk selain Masjidil Haram, para ulama berselisih pendapat. Yang kuat adalah yang membolehkannya jika ada keperluan atau kemaslahatan. Dalilnya, dahulu orang-orang kafir menemui Nabi shallallahu alaih wa sallam di dalam masjid di Madinah.

Ketujuh, tidak boleh memberi keleluasan kepada non muslim untuk memiliki mushaf Al-Quran, baik melalui hadiah, jual-beli, wasiat atau penggadaian. Sebab tidak ada jaminan bahwa mereka tidak akan menghina mushaf tersebut. Demikian pula tidak boleh memberi keleluasaan kepada mereka untuk menyentuh mushaf Al-Quran, karena firman Allah Taala,“Hai orang-orang yang beriman, sesungguhnya orang-orang yang musyrik itu najis.” (at-Taubah: 28)

Namun demikian, diperbolehkan memberi mereka terjemah Al-Quran jika memang mereka dapat diharapkan memeluk Islam. Sedangkan jika dikhawatirkan mereka akan menghina terjemah Al-Quran itu, atau menjadikannya sebagai bahan untuk melancarkan permusuhannya kepada Islam dan muslimin, maka tidak boleh memberi mereka terjemah Al-Quran.

Kedelapan, seorang muslim tidak boleh berniat menyerupakan diri dengan kalangan non muslim dalam tempat dan waktu shalat. Seperti shalat pada waktu terbit atau terbenamnya matahari, kecuali ada dalil yang mengkhususkannya. Yaitu untuk shalat yang memiliki sebab, seperti shalat jenazah.

Kesembilan, seorang muslim boleh menjenguk non muslim yang sakit, sebagaimana Nabi shallallahu alaih wa sallam menjenguk seorang tetangga Yahudi beliau. Demikian pula diperbolehkan bagi seorang muslim untuk mendoakan kesembuhan baginya, bukan mendoakan pahala dan ampunan, sebagaimana seorang dokter muslim boleh mengobati pasien non muslim, atau meruqyahnya dengan Al-Quran. Hal ini berdasarkan hadits Abu Sa’id al-Khudri yang dirirwayatkan oleh al-Bukhari dan Muslim dalam kisah tentang seorang sahabat yang meruqyah orang kafir yang tersengat kalajengking dengan surat al-Fatihah. Nabi shallallahu alaih wa sallam tidak menyalahkan perbuatannya.

Sebagian ulama berpendapat bahwa seorang muslim boleh bertakziah kepada non muslim yang ditinggal mati karib kerabatnya. Jika yang meninggal adalah non muslim, maka dibolehkan pula baginya untuk mengatakan ucapan-ucapan yang memang diperbolehkan, seperti ‘semoga Allah menggantikan dengan yang lebih baik untuk kalian’.

Ia tidak boleh mendoakan pahala untuknya ataupun rahmat untuk si mayit, sebab keduanya tidak termasuk orang yang pantas mendapatkan pahala dan rahmat. Hendaknya ia tujukan semua itu untuk melunakkan hati non muslim tersebut agar mau memeluk Islam. Demikian pula, seorang muslim boleh menziarahi kuburan non muslim untuk mengingat kematian, namun tidak boleh memberi salam, berdoa dan meminta ampunan untuk si penghuni kubur.

Hal ini berdasarkan hadits yang diriwayatkan oleh Imam Muslim dari Abu Hurairah, bahwa Nabi shallallahu alaih wa sallam bersabda, “Aku minta izin kepada Rabbku untuk meminta ampunan untuk ibuku, namun Dia tidak mengizinkan. Aku minta izin kepada-Nya untuk menziarahi kuburnya, maka Dia mengizinkan.”

Tidak boleh bagi seorang muslim untuk memandikan mayat non muslim atau mengkafaninya, sebab Nabi shallallahu alaih wa sallam melemparkan orang-orang musyrik yang mati dalam perang Badar ke dalam sebuah lubang, tanpa memandikan ataupun mengkafani mereka. Demikian pula tidak boleh menyalatkan jenazah orang kafir. Allah Taala berfirman, “Dan janganlah kamu sekali-kali menshalatkan (jenazah) seorang yang mati di antara mereka…” (at-Taubah: 84)

Dan tidak boleh mendoakan ampunan atau rahmat untuk mereka, atau mengatakan ‘almarhum’, karena Allah Taala berfirman, “Tiadalah sepatutnya bagi Nabi dan orang-orang yang beriman memintakan ampun (kepada Allah) bagi orang-orang musyrik, walaupun orang-orang musyrik itu adalah kaum kerabat (nya), sesudah jelas bagi mereka, bahwasanya orang-orang musyrik itu adalah penghuni neraka jahanam.” (at-Taubah: 113)

Tidak boleh pula mengurus masalah penguburannya. Jika orang kafir yang mati itu tidak memiliki kerabat yang menguburkannya, maka boleh seorang muslim menutupi jasadnya dengan tanah, agar bau busuknya tidak mengganggu yang lain. Kemudian seorang muslim tidak boleh mengiringi, berjalan di sisi, menggotong, atau menghadiri penguburan jenazah non muslim, karena Allah Taala berfirman, “…dan janganlah kamu berdiri (mendo’akan) di kuburnya.” (at-Taubah: 84) Dan selanjutnya, tidak boleh menguburkan jenazah non muslim di pekuburan muslimin. Hal ini berdasarkan perbuatan Nabi shallallahu alaih wa sallam dan ijma kaum muslimin.

(Sumber: Ahkam Ta’amul Ma’a Ghair al-Muslimin, Khalid bin Muhammad al-Majid)

Silahkan Download File Pdf: Download

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *