Banyaknya Jalan Kebaikan

March 25, 2016

Kebaikan memiliki jalan yang banyak sekali. Dan ini adalah kemurahan dari Allah untuk para hamba-Nya, agar mereka mendapatkan keutamaan yang bermacam-macam, dan pahala yang berlimpah. Jalan kebaikan yang pokok ada tiga: amalan jasmani seperti shalat, amalan harta seperti zakat, dan amalan yang berhubungan dengan jasmani dan harta sekaligus seperti berperang di jalan Allah. Tiga pokok amalan ini memiliki ragam yang sangat banyak. Hal tersebut agar ketaatan yang dijalani seorang hamba menjadi beraneka ragam sehingga mereka tidak merasa jenuh. Seandainya amal ketaatan hanya satu macam saja, niscaya mereka akan bosan. Pun tidak akan terlihat siapa yang berhasil melewati ujian, dan siapa yang tidak. Namun jika amal ketaatan beraneka ragam, hal itu akan lebih sesuai dengan kondisi orang yang berbeda-beda, dan akan lebih memperlihatkan kenyataan masing-masing hamba dalam beribadah.

Cukup banyak ayat Al-Quran yang menunjukkan bahwa kebaikan tidak hanya satu macam saja. Di antaranya adalah firman Allah Taala, “Maka berlomba-lombalah dalam kebaikan-kebaikan.” (al-Baqarah: 148) “Sesungguhnya mereka adalah orang-orang yang selalu bersegera dalam (mengerjakan) perbuatan-perbuatan yang baik.” (al-Anbiya: 90) “Dan apa yang kamu kerjakan berupa kebaikan, niscaya Allah mengetahuinya.” (al-Baqarah: 197) “Dan apa saja kebaikan yang kamu buat, maka sesungguhnya Allah Maha Mengetahuinya.” (al-Baqarah: 215) “Barangsiapa yang mengerjakan kebaikan seberat dzarrahpun, niscaya dia akan melihat (balasan)nya.” (al-Zalzalah: 7) Dan masih banyak lagi ayat Quran yang menunjukkan hal ini.

Sedangkan dari hadits Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam, di antaranya adalah sebagai berikut:

Sabda Nabi shallallahu alaih wa sallam, “Setiap hari, masing-masing sendi salah seorang dari kalian wajib ditunaikan sedekahnya. Setiap tasbih, tahmid, tahlil dan takbir adalah sedekah. Menyuruh kepada kebaikan dan mencegah dari kemungkaran merupakan sedekah. Dan dua rakaat yang dikerjakan pada shalat dhuha mencukupi itu semua.” (HR. Muslim)

Dikatakan bahwa sendi tubuh manusia ada 360, baik yang besar ataupun yang kecil. Sehingga setiap hari seseorang harus menunaikan 360 sedekah. Sedekah di sini bukan hanya dalam bentuk harta, akan tetapi kebaikan secara umum. Semua pintu kebaikan adalah sedekah. Disebutkan bahwa tasbih, tahmid, tahlil, takbir, menyuruh kebaikan dan mencegah dari kemungkaran adalah sedekah. Maka setiap perkara yang mendekatkan diri kepada Allah adalah sedekah, baik berupa perkataan ataupun perbuatan. Membaca Al-Quran dan menuntut ilmu agama juga merupakan sedekah. Dengan demikian, sedekah itu ada banyak. Siapapun bisa menunaikan kewajiban sedekah harian yang berjumlah 360 ini.

Sabda Nabi shallallahu alaih wa sallam, “Sungguh aku melihat ada seorang laki-laki hilir mudik di surga disebabkan satu pohon yang dia potong dari tengah jalan karena mengganggu kaum muslimin.” (HR. Muslim)

Hadits ini menunjukkan bahwa siapa yang menghilangkan gangguan dari kaum muslimin, akan mendapat pahala yang besar. Kalau menghilangkan gangguan yang bersifat indrawi saja seperti ini, bagaimana lagi dengan menghilangkan gangguan yang bersifat maknawi. Ada sebagian orang yang jahat, suka mengganggu, memiliki pemikiran buruk, dan berakhlak tercela. Mereka menghalang-halangi orang banyak dari agama Allah. Menyingkirkan orang-orang seperti ini dari jalan kaum muslimin lebih utama dan lebih besar pahalanya di sisi Allah. Caranya adalah dengan membantah dan menyanggah pemikiran-pemikiran mereka. Kalau cara ini tidak membuahkan hasil, pihak berwenang dapat memberikan hukuman mati atau hukuman fisik atau hukuman sosial kepada mereka, sesuai dengan tingkat kejahatan yang telah mereka lakukan.

Singkat kata, menyingkirkan gangguan dari jalan termasuk perkara yang mendekatkan seorang hamba kepada Allah. Baik itu jalan inderawi yang dilalui telapak kaki, ataupun jalan maknawi yang dilalui oleh qalbu. Dan menyingkirkan gangguan dari jalan yang dilalui qalbu atau amal, pahalanya lebih besar daripada menyingkirkan gangguan dari jalan yang dilalui telapak kaki.

Sabda Nabi shallallahu alaih wa sallam, “Tidak ada seorang muslim pun yang menanam tanaman, kecuali apa yang dimakan, dicuri, ataupun dikurangi (diambil) dari tanaman itu akan dihitung sebagai sedekah.” (HR. Muslim) Dalam riwayat Muslim yang lain, Rasulullah shallallahu alaih wa sallam bersabda, “Tidaklah seorang muslim menaman tanaman kemudian dimakan oleh manusia, hewan ataupun burung, kecuali menjadi sedekah untuknya sampai hari kiamat.”

Hadits ini mengandung anjuran bercocok tanam. Bercocok tanam memiliki banyak kebaikan dan kemaslahatan, baik yang bersifat keagamaan maupun keduniaan. Di antara maslahat duniawinya ialah mendapatkan hasil tanaman tersebut. Kemaslahatan dari hasil bercocok tanam tidaklah seperti uang. Ia berguna bagi si penanam dan negerinya. Setiap orang akan mendapatkan manfaat. Dengan menjual atau memakan buahnya. Sehingga terjadi pertumbuhan pada masyarakat tersebut dan terwujud kebaikan yang banyak. Adapun maslahat diniyah bercocok tanam, maka apa yang dimakan oleh burung, ayam ataupun binatang lain, walaupun hanya sebutir, akan menjadi sedekah yang pahalanya diperuntukkan bagi si penanam. Baik ia menginginkan hal itu ataupun tidak. Bahkan kalau ada orang yang mencuri hasil cocok tanamnya, ia akan mendapatkan pahala dengan apa yang dicuri itu.

Dengan demikian, hadits di atas menunjukkan banyaknya jalan kebaikan, dan bahwa seseorang akan mendapat pahala dari barang miliknya yang dimanfaatkan oleh orang lain, baik ia niatkan ataupun tidak. Ini seperti firman Allah Taala, “Tidak ada kebaikan pada kebanyakan bisikan-bisikan mereka, kecuali bisikan-bisikan dari orang yang menyuruh (manusia) memberi sedekah, atau berbuat ma’ruf, atau mengadakan perdamaian di antara manusia. Dan barangsiapa yang berbuat demikian karena mencari keredhaan Allah, maka kelak Kami memberi kepadanya pahala yang besar.” (an-Nisaa: 114) Allah Taala menyebutkan bahwa semua perkara yang disebutkan ini mengandung kebaikan, baik diniatkan untuk mendapatkan pahala atau tidak. Apabila perkara-perkara tersebut diniatkan untuk mendapatkan keridhaan Allah, maka pahalanya lebih besar lagi. Ini merupakan dalil bahwa sesuatu yang diambil manfaatnya oleh orang lain, maka pemiliknya akan mendapat pahala walaupun ia tidak berniat untuk itu. Jika ia niatkan, maka bertambahlah kebaikan di atas kebaikan.

Sabda Nabi shallallahu alaih wa sallam, “Tidak ada seorang pun dari kalian kecuali akan diajak bicara oleh Rabbnya tanpa seorangpun penterjemah antara dirinya dengan Rabbnya. Kemudian ia melihat ke sebelah kanan. Ia idak melihat apapun selain apa yang telah ia perbuat. Lalu ia melihat ke sebelah kiri. Ia tidak melihat apapun selain apa yang telah ia perbuat. Dan ia tidak melihat ke arah depannya, kecuali neraka di hadapan wajahnya. Maka takutlah dari (siksa) neraka, walaupun dengan (bersedekah) separuh kurma! Jika itupun tidak didapati, maka dengan (mengucap) kata-kata yang baik.” (HR. al-Bukhari dan Muslim)

Allah syariatkan banyak jalan kebaikan agar dengan begitu setiap hamba bisa mencapai puncak tujuan. Di antara jalan kebaikan tersebut adalah bersedekah. Terdapat riwayat shahih dari Nabi shallallahu alaih wa sallam, bahwa sedekah itu menghapus dosa sebagaimana air memadamkan api.” (HR. at-Tirmidzi) Hadits di atas juga menunjukkan bahwa sedekah, walaupun sedikit, dapat menyelamatkan seseorang dari siksa neraka. Jika seseorang tidak memiliki apapun, ia dapat menjaga dirinya dengan mengucapkan kalimat yang baik. Atau membaca Al-Quran, karena itu adalah sebaik-baik kalimat. Juga bertasbih, bertahlil, dan semisalnya; menyuruh kepada yang baik dan melarang dari yang mungkar; mengajarkan ilmu dan belajar. Dan ucapan lainnya yang akan mendekatkan seorang hamba kepada Allah. Semua itu termasuk dalam pengertian kalimat yang baik. Maka jika engkau tidak memiliki setengah kurma untuk disedekahkan, jagalah dirimu dari api neraka dengan kalimat-kalimat yang baik.

 

(Sumber: Syarh Riyadh ash-Shalihin, Syaikh Muhammad bin Shalih al-Utsaimin)

Silahkan Download File Pdf: Download

48 Comments

  • Abu tamara says:

    Bismillah,,afwan ustazd,,ana ada pertanyaan,,”Bagaimana cara yg syar’i menurut Ahlul sunnah,,tentang keadaan seorang imam shalat yg batal,,untuk menggantikan imam kan yg dibelakang imam maju ( dengan kriteria yg dibelakang imam,In syaa Allah layak untuk menggantikan imam ),,yg jd pertanyaan,,bagaimana cara imam mundur untuk bertaharah kembali,,padahal jama’ah dibelakang penuh,,agar tidak menyalahi aturan syari’at dengan tidak melewati syutrah makmum,,mohon penjelasan,,Jazakallah khair atas penjelasannya ustazd

    • Al Lijazy says:

      Bismillah, ,jika imam pengganti sudah maju ke posisi imam semula. Maka tidak masalah bagi imam yang batal untuk keluar masjid dan berwudhu’ kembali dengan berjalan tenang dengan arah menyamping ( keselatan atau ke utara) diantara shaf ma’mum. Hal tersebut tidak dikatakan lewat didepan sutrah, sebab sutrah ma’mum mengikuti sutrah imam. Dan hal ini pula pernah dilakukan sahabat Nabi yang ketika itu masbuk . Bahkan saat itu beliau melewati shaf jama’ah dengan mengendarai hewan tunggangan. Allahua’lam

  • Abu tamara says:

    Bismillah,,afwan ustazd,,ada pertanyaan lg,,”Bagaimana hukumnya dalam islam,,jika ada orang yg justru menekankan utk melaksanakan sunnah dari pada yg fardu/wajib dlm amalanya,,malah kadang berlebihan dlm melaksanakan amalanya,,orang ini memang shalat,,zakat,,puasa ramadhan,,dan bahkan haji,,ttp ketika suruh belajar tentang ilmu agama,,susah sekali yg mengakibatkan pemahaman pemahamannya keliru atau bahkan menyimpang dlm agama,,contah ketika ditanya makna 2 kalimah shahadah pun salah,,mudah sekali menerima pelajaran dr para penceramah yg su’ sehingga banyak menimbulkan cacat niat dlm amal ataupun ibadah wajib.”Bagaimana keadan seperti ini ustazd,,,Mohon penjelasan,,Jazakallah khair,,

    • Al Lijazy says:

      Bismillah, ahsannya orang seperti itu di beri nasehat dengan cara yang baik dan pada waktu yang tepat. Kami rasa orang itu kurang pemahaman saja. Jadi sempatkan memberi nasehat dengan kesan tidak menggurui dan menyalahkan. Berilah dukungan terhadap semangat ibadahnya sambil pelan-pelan diluruskan. Ajarkan kepadanya bahwa amal ibadah itu tidak akan dikatakan amal shalih jika tidak mencocoki Al Qur’an dan as Sunnah, dan kita tidak tahu amalan kita ini sudah mencocoki keduanya kecuali dengan ilmu syar’i, maka dari itu berilmu syar’i itu harus didahulukan sebelum berkata dan ber’amal. Allahua’lam semoga Allah Ta’ala segera memberikannya hidayah.

  • Abu tamara says:

    Na’am,,syukran kastiran wa Barakallah atas penjelasanya,,selanjutnya,,bagaimana sikap makmum ketika sedang shalat berjama’ah,,kalau ada anak anak yg lalu lalang/ lari larian sambil teriak teriak didepan shaf jama’ah,,atau ada yg menangis berkelanjutan tetapi yg mengajak anak itu/bapaknya diam sj,,mohon penjelasan lanjutan ustazd,,,

    • Al Lijazy says:

      sebaiknya tetap dicegah jika dia melewati shaf kita, untuk pembelajaran saja pada anak tersebut bahwa lewat di depan orang sholat tersebut dilarang. jika perlu selesai sholat anak tersebut dinasehati dengan cara yang lembut,jangan dimarahi agar anak tersebut tidak trauma datang ke masjid. namun kalau tentang anak yang menangis yang kita nasehati adalah bapaknya, mohon pengertiannya,untuk tidak mengajak anak kecil yang belum bisa kondusif ke masjid. Allahua’lam

  • Abu tamara says:

    Syukran kastiran atas penjelasanya ustazd,,Jazakallah khair

  • Abu tamara says:

    Bismillah,,afwan ustadz,,ada pertanyaan,,”Si penanya pernah mendengar,,sy sendiri pernah mendengar,,bahwa ketika kita sedang shalat,,ketika ada tamu yg ketok pintu,,dan kita sudah mengeraskan takbir atau bacaan,,tetapi sitamu tdk mendengar,,dan masih ketok pintu,,terus,,barang kali begitu penting atau darurah,,Maka kita yg sedang shalat,,istirahat shalat dan membukakan pintu,,dan mengatakan sy sedang shalat,,setelah tamu tau,,kita teruskan shalat lg untuk menyelesaikan,,bagaimana dng keadaan seperti ini istadz,,apakah ada riwayatnya,,Mohon penjelasan Jazakallahu khair,,,

    • Al Lijazy says:

      Bismillah, assolaatu wassalaam ‘ala Rasulillah waman waalah, berbicara sedikit dengan sebab darurat dalam sholat sebagian Ulama’ telah membahasnya hal itu termasuk yang di bolehkan berdasarkan kisah terlupanya Rasulullah dalam sholatnya.( silahkan rujuk di kitab shahih fiqhis sunnah Syeikh Abu Malik Kamal,)beliau menjelaskannya, namun berbicara yang dimaksud ada pada beberapa keadaan yang beliau tidak menjelaskan seperti keadaan kasus antum diatas, untuk kasus sholat yang mendengar ketukan pintu, terdapat penjelasan tersendiri, diantaranya dari Syeikh Shalih Al munajjid ( murid Syeikh Ibnu Utsaimin),ketika beliau ditanya tentang mendengar ketukan pintu sedangkan kita dalam keadaan sholat, beliau menjelaskan bahwa :
      “Dibolehkan bagi orang yang shalat untuk melakukan gerakan ringan, karena suatu kebutuhan yang mendesak, dengan syarat, tidak mengubah arah kiblatnya. Seperti membukakan pintu yang berada di arah kiblat.
      Dalilnya adalah hadis yang diriwayatkan Abu Daud, dari A’isyah radliallahu ‘anha, beliau mengatakan:
      Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah shalat, sementara pintu rumah terkunci. Kemudian saya datang, dan saya minta agar dibukakan. Beliau-pun berjalan dan membukakan pintu, lalu beliau kembali lagi ke tempat shalatnya. Disebutkan bahwa pintu rumah beliau berada di arah kiblat. (HR. Abu Daud no. 922 dan dishahihkan al-Albani)
      Dari fatwa tersebut kita pahami bahwa boleh membukakan pintu dengan syarat pintu berada diarah kiblat dan letaknya tidak jauh dari tempat sholat kita, sehingga hanya membutuhkan hanya beberapa langkah untuk membukanya, dan tidak sampai berjalan jauh seperti kejadian dalam hadits, sehingga dengan keadaan tersebut tidak memerlukan untuk berbicara memberitahu kalau dia sedang sholat, sebab dengan terbukanya pintu otomatis tamunya langsung tahu keadaan kita sedang sholat. Allahua’lam

  • Abu tamara says:

    Bismillah,,ana ada pertanyaan Ustadz,,
    1). Bagaimana hukum tentang safari tarawih,,seperti yg sdh umum ada di indonesia ini,, apakah dibenarkah dl syari’at
    2).Bagaimana dng keadaan seperti ini,,””seseorang yg dianggab da’i,,jd slm bln ramadhan ini shalatnya diluar kampungnya terus karena banyakknya permintaan dr ta’mir ta’mir masjid untuk menjadi imam shalat isya’ g tarawih dan penceramah,,sedangkan dikampungnya sendiri hari ke 7 sj masjidnya sdh lowong,,Mohon penjelasan,,Jazakallahu khair

    • Al Lijazy says:

      bismillah, sampai saat ini kami tidak mendapatkan larangan tentang hal itu, yang jelas kewajiban berdakwah adalah di setiap waktu dan tempat dengan kadar semampunya, prinsipnya semakin meluas da’wahnya maka semakin tercapai tujuan da’wah yaitu untuk mengeluarkan manusia dari kegelapan menuju cahaya.
      tapi dalam hal inni sebaiknya kita juga punya prioritas perhatian, misalkan mendahulukan keluarganya terlebih dahulu sebelum berda’wah ke orang lain.,termasuk juga mungkin mendahulukan kampung tempat tinggalnya dahulu sebelum kampung orang lain, hal ini dengan melihat cara da’wah Rasulullah yang menda’wahi penduduk madinah terlebih dahulu sebelum mengutus sebagian Sahabat untuk da’wah diluar madinah, namun hal itu tidak menutup dibolehkannya untuk sebagian kondisi, ini sebatas belum sampainya dalil yang khusus tentang hal ini kepada kami. Allahua’lam

  • Abu tamara says:

    Bismillah,,ada pertanyaan ustadz,,””Bagaimana menurut islam,,jika ada keluarga muslim yg sakit,dan setelah melalui beberapa tahapan,,memang harus dibawa/dirawat dirumah sakit,,dan rumah sakitnya bukan rumah sakit islam atau rumah sakit umum,,yg dirumah sakit itu banyak sekali/bahkan hampir tiap kamar ada simbul simbul penyembahan selain Allah Ta’ala,,bahkan dirumah sakit itu ada fasilitas mushala atau masjid.Bagaimana dng keadaan seperti ini ustadz secara syari’at islam dan bagaiman keadaan shalatnya seorang muslim di masjid itu,,Mohon penjelasan Jazakallahu khair,,

    • Al Lijazy says:

      Bismillah, seorang muslim jika sakit dan harus ke rumah sakit hendaknya memilih Rumah sakit yang Islami sebisa mungkin, kalaupun rumah sakit umum sebisa mungkin memilih dokter maupun perawat yang muslim juga, diantara manfaatnya seperti yang pernah di jelaskan oleh Syeikh Muhammaad bin Shalih Al Utsaimin dalam sebagian muhadharahnya yaitu jika nantinya si sakit mengalami sakaratul maut di rumah sakit tersebut, maka nanti yang akan mengurusinya adalah para dokter dan perawat yang muslim, maka tentunya mereka akan menuntun pasien kepada adab-adab islami ketika me njelang kematian, diantaranya di talqin dengan kalimat tauhid dan sebagainya. Dan hal ini tentunya tidak akan didapatkan si sakit jika dia berada di rumah sakit non islami, malah justru khawatir akan sebaliknya, menjelang kematiannya malah justru akan diajak murtad dari agamanya. Wal ‘iyadzu billah.
      Untuk sholat ditempat yang terdapat simbol-simbol orang kafir misalkan salib, maka kita dapatkan penjelasan:
      Pada dasarnya boleh shalat di tempat manapun selama tidak ada dalil yang melarang untuk shalat di tempat tersebut. Pasalnya Nabi saw bersabda, “Dijadikan bumi ini untukku sebagai masjid dan suci (mensucikan).” (Muttafaq alayh).
      Bahkan shalat di tempat ibadah mereka, seperti di gereja yang sudah pasti berisi salib, hukumnya boleh. Hal ini seperti yang dikatakan oleh Ibnu Abbas, Abu Musa, al-Hasan, asy-Sya’bi, Umar ibn Abdul Aziz, dan an-Nakhai. Karena itu, shalat di tempat atau di rumah yang ada salibnya adalah sah selama syarat dan rukunnya terpenuhi.
      Adapun shalat di tempat yang di dalamnya ada patung atau berhala di sini, maka menurut para ulama hukumnya haram atau minimal makruh. Seperti yang diketahui bahwa Nabi saw sendiri baru mau masuk ke dalam Ka’bah ketika patung dan berhala yang ada di dalamnya disingkirkan. Demikian pula Umar ibn al-Khattab berkata, “Kami tidak masuk ke dalam gereja mereka kalau di dalamnya terdapat patung.” (Majmu Fatawa).
      Larangan shalat di tempat yang berisi patung dan berhala karena:- Tempat tersebut tidak dimasuki oleh malaikat rahmat. Nabi saw bersabda, “Malaikat tidak masuk ke rumah yang di dalamnya terdapat anjing dan gambar patung.” (HR al-Bukhari dan Muslim).- Allahua’lam

  • Abu tamara says:

    Bismillah,,afwan pak ustadz,,diberondong pertanyaan
    “Apakah ada shalat lg setelah shalat witir,,In syaa Allah maksudnya setelah shalat isya’,shalat tarawih,shalat witir berjama’ah dibulan ramadhan,,Mohon penjelasan,,Jazakallahu khair

    • Al Lijazy says:

      Bismillah, mungkin maksud antum adalah bolehkah sholat sunnah lagi setelah melaksanakan sholat witir?
      Sebab mungkin sebagian orang menganggap sholat witir adalah penutup sholat malam, jadi kalau sudah ditutup dengan sholat witir maka tidak ada lagi sholat setelah itu kecuali sudah masuk shubuh.
      Mengenai masalah ini, ada dua pendapat di antara para ulama.
      Pendapat pertama, mengatakan bahwa boleh melakukan shalat sunnah lagi sesukanya, namun shalat witirnya tidak perlu diulangi.
      Pendapat ini adalah yang dipilih oleh mayoritas ulama seperti ulama-ulama Hanafiyah, Malikiyah, Hanabilah, pendapat yang masyhur di kalangan ulama Syafi’iyah dan pendapat ini juga menjadi pendapat An Nakha’i, Al Auza’i dan ‘Alqomah. Mengenai pendapat ini terdapat riwayat dari Abu Bakr, Sa’ad, Ammar, Ibnu ‘Abbas dan ‘Aisyah. Dasar dari pendapat ini adalah sebagai berikut.
      Pertama, ‘Aisyah menceritakan mengenai shalat malam Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam,
      كَانَ يُصَلِّى ثَلاَثَ عَشْرَةَ رَكْعَةً يُصَلِّى ثَمَانَ رَكَعَاتٍ ثُمَّ يُوتِرُ ثُمَّ يُصَلِّى رَكْعَتَيْنِ وَهُوَ جَالِسٌ فَإِذَا أَرَادَ أَنْ يَرْكَعَ قَامَ فَرَكَعَ ثُمَّ يُصَلِّى رَكْعَتَيْنِ بَيْنَ النِّدَاءِ وَالإِقَامَةِ مِنْ صَلاَةِ الصُّبْحِ.
      “Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam biasa melaksanakan shalat 13 raka’at (dalam semalam). Beliau melaksanakan shalat 8 raka’at kemudian beliau berwitir (dengan 1 raka’at). Kemudian setelah berwitir, beliau melaksanakan shalat dua raka’at sambil duduk. Jika ingin melakukan ruku’, beliau berdiri dari ruku’nya dan beliau membungkukkan badan untuk ruku’. Setelah itu di antara waktu adzan shubuh dan iqomahnya, beliau melakukan shalat dua raka’at.” (HR. Muslim no. 738)
      Kedua, dari Ummu Salamah, beliau mengatakan bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah melakukan shalat dua raka’at sambil duduk setelah melakukan witir (HR. Tirmidzi no. 471. Syaikh Al Albani mengatakan bahwa hadits ini shahih).
      Ketiga, dari Jabir bin ‘Abdillah, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
      مَنْ خَافَ مِنْكُمْ أَنْ لاَ يَسْتَيْقِظَ مِنْ آخِرِ اللَّيْلِ فَلْيُوتِرْ مِنْ أَوَّلِ اللَّيْلِ ثُمَّ لْيَرْقُدْ …
      “Barangsiapa di antara kalian yang khawatir tidak bangun di akhir malam, maka berwitirlah di awal malam lalu tidurlah, …” (HR. Tirmidzi no. 1187. Syaikh Al Albani mengatakan bahwa hadits ini shahih). Dipahami dari hadits ini bahwa jika orang tersebut bangun di malam hari –sebelumnya sudah berwitiri sebelum tidur-, maka dia masih diperbolehkan untuk shalat.
      Adapun dalil yang mengatakan bahwa shalat witirnya tidak perlu diulangi adalah sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam,
      لاَ وِتْرَانِ فِى لَيْلَةٍ
      “Tidak boleh ada dua witir dalam satu malam.” (HR. Tirmidzi no. 470, Abu Daud no. 1439, An Nasa-i no. 1679. Syaikh Al Albani mengatakan bahwa hadits ini shahih)
      Pendapat kedua, mengatakan bahwa tidak boleh melakukan shalat sunnah lagi sesudah melakukan shalat witir kecuali membatalkan shalat witirnya yang pertama, kemudian dia shalat dan witir kembali. Maksudnya di sini adalah jika sudah melakukan shalat witir kemudian punya keinginan untuk shalat sunnah lagi sesudah itu, maka shalat sunnah tersebut dibuka dengan mengerjakan shalat sunnah 1 raka’at untuk menggenapkan shalat witir yang pertama tadi. Kemudian setelah itu, dia boleh melakukan shalat sunnah (2 raka’at – 2 raka’at) sesuka dia, lalu dia berwitir kembali.
      Inilah pendapat lainnya dari ulama-ulama Syafi’iyah. Mengenai pendapat ini terdapat riwayat dari ‘Utsman, ‘Ali, Usamah, Ibnu ‘Umar, Ibnu Mas’ud dan Ibnu ‘Abbas. Dasar dari pendapat ini adalah diharuskannya shalat witir sebagai penutup shalat malam. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
      اجْعَلُوا آخِرَ صَلاَتِكُمْ بِاللَّيْلِ وِتْرًا
      “Jadikanlah penutup shalat malam kalian adalah shalat witir.” (HR. Bukhari no. 998 dan Muslim no. 751)
      Pendapat yang Terkuat
      Dari dua pendapat di atas, pendapat yang terkuat adalah pendapat pertama dengan beberapa alasan berikut.
      Pertama, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam mengerjakan shalat sunnah setelah beliau mengerjakan shalat witir. Perbuatan beliau ini menunjukkan bolehnya hal tersebut.
      Kedua, pendapat kedua yang membatalkan witir pertama dengan shalat 1 raka’at untuk menggenapkan raka’at, ini adalah pendapat yang lemah ditinjau dari dua sisi.
      1. Witir pertama sudah dianggap sah. Witir tersebut tidaklah perlu dibatalkan setelah melakukannya. Dan tidak perlu digenapkan untuk melaksanakan shalat genap setelahnya.
      2. Shalat sunnah dengan 1 raka’at untuk menggenapkan shalat witir yang pertama tadi tidaklah dikenal dalam syari’at.
      Dengan dua alasan inilah yang menunjukkan lemahnya pendapat kedua.
      Kesimpulan
      Dari pembahasan ini, ada beberapa pelajaran yang bisa kita ambil.
      Pertama, bolehnya melakukan shalat sunnah lagi sesudah shalat witir.
      Kedua, diperbolehkannya hal ini juga dengan alasan bahwa shalat malam tidak ada batasan raka’at sebagaimana dikatakan oleh Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah (Majmu’ Al Fatawa, 22/272).
      Jika kita telah melakukan shalat tarawih ditutup witir bersama imam masjid, maka di malam harinya kita masih bisa melaksanakan shalat sunnah lagi. Sehingga tidak perlu harus meninggalkan imam masjid ketika imam baru melaksanakan shalat tarawih 8 raka’at dengan niatan ingin melaksanakan shalat witir di rumah sebagai penutup ibadah atau shalat malam. Ini tidaklah tepat karena dia sudah merugi karena meninggalkan imam sebelum imam selesai shalat malam. Padahal pahala shalat bersama imam hingga imam selesai shalat malam disebutkan dalam hadits, “Siapa yang shalat bersama imam sampai ia selesai, maka ditulis untuknya pahala qiyam satu malam penuh.” (HR. Ahmad dan Tirmidzi. Shahih).
      Ketiga, adapun hadits Bukhari-Muslim yang mengatakan “Jadikanlah penutup shalat malam kalian adalah shalat witir”, maka menjadikan shalat witir sebagai penutup shalat malam di sini dihukumi sunnah (dianjurkan) dan bukanlah wajib karena terdapat dalil pemaling dari perbuatan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam (LihatShahih Fiqih Sunnah, 395). Allahua’lam

  • Abu tamara says:

    Syukran kastiran atas penjelasanya,,Barakallahufiikum wa jazakumullahu khairan

  • Abu tamara says:

    Bismillah,,ada pertanyaan lg,,
    1. Mohon dijelaskan dan sampaikan mengenai riwayat nabi shallallahu’alaihi wassallam ketika sedang memulai khutbah shalat jum’ah,,ketika ada shahabat yg datang dan melakukan shalat sunnah ,,beliau rasulullah shallallahu’alaihi wassallam,,berhenti sementara dlm berkhutbah,,( menghormati/memberi kesempatan shahabat shalat sunnah selesai )
    2.Tentang Riwayat bahwa,””Tidaklah orang itu disebut bertaqwa sebelum bisa meninggalkan yg halal yg bisa mengganggu yg wajib.” In syaa Allah nasihat ini dr Amirul mu’minin Umar bin Al Khatab,,Apakah dalil ini shahih,,dan apa bilas shahih bagaimana kalomatnya,,dan sy jg pernah mendengar dlm pembahasan zuhud
    Mohon penjelasan,,Jazakallahu khair

    • Al Lijazy says:

      Bismillah,
      Pertama: untuk pertanyaan pertama yang Rasulullah memberikan penghormatan pada shahabat yang shalat ytahiyatul masjid, kalau maksudnya penghormatan tersebut adalah berhentinya beliau dari khutbah jum’at sampai shahabat tersebut selesai shalat,maka kami tidak mendapatkan keterangan tentang hal itu dari ahli Ilmu. Sebatas yang kami dapatkan keterangan hal ini adalah hukum secara umum bagi mereka yang masuk masjid di sunnahkan dengan kuat untuk sholat tahiyatul masjid.
      berdasarkan hadits,
      إذَا دَخَلَ أَحَدُكُمْ الْمَسْجِدَ فَلَا يَجْلِسْ حَتَّى يُصَلِّيَ رَكْعَتَيْنِ
      “Jika salah seorang dari kalian memasuki masjid, maka janganlah dia duduk sampai dia mengerjakan shalat sunnah dua raka’at (shalat sunnah tahiyatul masjid).” (HR. Bukhari no. 1163 dan Muslim no. 1687)
      Dan Dia tetap sholat meskipun khatib sedang di tengah-tengah khutbah jum’at, berdasarkan dalil dari
      Jabir bin Abdillah –radhiyallahu ‘anhu– berkata,
      جَاءَ سُلَيْكٌ الْغَطَفَانِيُّ يَوْمَ الْجُمُعَةِ وَرَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَخْطُبُ, فَجَلَسَ. فَقَالَ لَهُ: يَا سُلَيْكُ قُمْ فَارْكَعْ رَكْعَتَيْنِ وَتَجَوَّزْ فِيهِمَا! ثُمَّ قَالَ: إِذَا جَاءَ أَحَدُكُمْ يَوْمَ الْجُمُعَةِ وَالْإِمَامُ يَخْطُبُ فَلْيَرْكَعْ رَكْعَتَيْنِ وَلْيَتَجَوَّزْ فِيهِمَا
      Artinya,“Sulaik Al-Ghathafani datang pada hari Jum’at, sementara Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam sedang berkhutbah, dia pun duduk. Maka beliau langsung bertanya padanya, “Wahai Sulaik, bangun dan shalatlah dua raka’at, kerjakanlah dengan ringan.” Kemudian beliau bersabda, “Jika salah seorang dari kalian datang pada hari Jum’at, sedangkan imam sedang berkhutbah, maka hendaklah dia shalat dua raka’at, dan hendaknya dia mengerjakannya dengan ringan.” (HR. Al-Bukhari no. 49 dan Muslim no. 875)
      Yang kami dapatkan Faedah dari para Ulama’ tentang hadits ini hanyalah
      Pertama: tetap di sunnahkannya sholat tahiyatul masjid meskipun khatib sedang berkhutbah selama khutbahnya belum berakhir atau hampir selesai.
      Kedua: bolehnya khotib memutus khutbahnya sejenak untuk memperingatkan sesuatu pada jama’ah jika hal itu bisa memberikan mashlahat,
      Jadi untuk pertanyaan antm kami tidak mendapatkan keterangan dari ahli ilmu tentang hal itu. Allahua’lam
      Pertanyaan kedua : atsar seperti yang antum sebutkan kami belum pernah tahu, namun yang semakna terdapat dalam hadits
      dari Rosulullah shalallahu ‘alaihi wasallam, bahwasanya beliau bersabda :
      لا يبلغ العبد أن يكون من المتقين حتى يدع ما لا بأس به حذرا مما به بأس
      ” Bahwasanya seorang hamba, tidaklah akan bisa mencapai derajat ketaqwaan sehingga ia meninggalkan apa yang tidak dilarang, supaya tidak terjerumus pada hal- hal yang dilarang ” ( Hadist ini Hasan, diriwayatkan oleh Tirmidzi no : 2451 , Ibnu Majah no : 4215, Baihaqi : 2/ 335) .
      Dari hadist tersebut,kita bisa menyimpulkan , bahwa hakikat taqwa adalah kesungguhan dan kehati-hatian terhadap apa yang dilarang Allah swt. Orang yang bertaqwa adalah orang yang sungguh –sungguh untuk menjauhi segala larangan Allah dan berhati- hati sekali supaya tidak terjerumus di dalamnya, walaupun untuk menuju kepada ketaqwaan tersebut , kadang- kadang ia harus meninggalkan apa yang tidak dilarang, jika hal tersebut akan menyeretnya kepada apa yang dilarang.
      Mungkin hadits itu maksudnya. Allahua’lam

  • Abu tamara says:

    Bismillah,,ada pertanyaan ustadz,,Mengenai usaha tour and travel,,dibidang umrah dan haji,,Bagaimana hukumnya ketika ada usaha tour and travel dibidang umrah dan haji,,dng cara perekrutan menyebarkan selebaran / mengajak langsung,,”‘jadi kasusnya seperti ini,,,kalau bisa mengajak 10 orang untuk umrah dng tour and travel miliknya,,maka akan dapat 1 kesempatan umrah jd,,begitu seterusnya,,dng jaringan berikutnya terus menerus,,apakah usaha ini boleh ustadz,,mohon penjelasan,,Barakallahufiik

    • Al Lijazy says:

      Bismillah, ini yang dikenal di masyarakat dengan istilah MLM haji umrah. Sebenarnya masalah khusus ini kami belum mendapatkan fatwa dari Ulama’ kibar, karena mungkin keterbatasan ilmu kami atau masalah ini belum terangkat ke para Ulama’ kibar. Jadi sementara ini penilaian kami terhadap travel hsji umrah model seperti itu bathil dan tidak sesuai syari’at dengan beberapa alasan.
      Pertama: cara tersebut jelas tidak baik, sebab secara tidak langsung akan merubah ibadah menjadi bisnis murni dan di khawatirkan akan merusak keikhlasan dalam ibadah.
      Kedua : tinjauan hukumnya bahwa Dalam kaidah fiqih, semua bentuk bisnis memiliki hukum asal halal, kecuali jika terdapat dalil yang melarangnya. Halal dalam konteks ini tentu saja berarti bebas dari maysir, gharar, dan riba, tadlis, dzalim, dan tidak mengandung unsur haram baik dzat maupun caranya. Terkait dengan tawaran umroh dan haji gratis jika mendapatkan anggota (down line) 10 orang maka disini minimalnya terdapat kedzaliman. Sebab yang dikatakan gratis tersebut mungkin diambil dari alokasi dana down line yang masuk. Dengan demikian peserta gratis telah menggunakan harta down line tanpa iizinnya.
      Ketiga :Kemudian MLM termasuk katagori transaksi jual beli, namun dalam kegiatan MLM haji dan umrah ini tidak dipenuhinya salah satu rukun jual beli yaitu produk yang dijualbelikan.
      Yang kami tahu MLM adalah kegiatan menjual atau memasarkan langsung suatu produk baik berupa barang maupun jasa kepada konsumen. Jika demikian maka syarat hukumnya produk yang dijualbellikan harus ada. “Kalau di haji dan umrah, produk apa yang dijual?” haji dan umroh itu ibadah, bukan barang dagangan.
      Keempat : mungkin juga didalamnya terdapat tadlis(penipuan) yaitu modelnya dengan menjual janji-janji harga murah haji dan umrah yang tidak bisa dipertanggung jawabkan. Masyarakat yang tidak memahami karakteristik penawaran akan terpikat janji biaya murah dibanding biaya haji dan umrah secara resmi. Sehingga logis jika berakhir dengan kekecewaan,”
      Dan setahu kami MUI kita juga sudah mengeluarkan fatwa Haram terhadap travel haji dan umroh model seperti itu, walhamdulillah. Allahua’lam bish shawab

  • Abu tamara says:

    Na’am,,syukran kastiran atas penjelasanya,,Barakallahufiil
    Ada pertanyaan lg ustadz
    1.Tentang shalat sunnah sblm subuh,,bahwa sy pernah mendengarkan tentang pembahasan ini,,””Al imam hasan basri rakhimakullah,,ketika di basra’ menegur jama’ah yg shalat sunnat sblm sebelum subuh sebanyak 4 rakaat dng 2 salam,,setelah jama’ah itu selesai shalat,, Al Imam menegurnya,,””Jangan engkau ulangi lagi shalat 4 raka’at ( 2 salam ) ,Penegasanya jngan lebih dr dua raka’at,,Ketika jama’ah mejawab,,”Apakah Allah akan mengazab ku krn shalat,,Maka Imam menjawab””Allah tdk akan meng Azab orang krn shalat,,ttp Allah mengazab krn shalat yg menyelisihi Rasulullah shallallahu’alaihi wassallam,,Dan Tentang Imam As syaukani rakhimakullah,,yg bekata “” aku melaksanakan shalat sblm subuh dirumah,,dan setelah sampai masjid aku aku berdiri sampai datangnya shalat.Pertanyaanya
    ‘”Apakah riwayat ini shahih,,
    “” Bila shahih,,bagaimana penjelsan pengamalanya
    Barakallahufiik

    • Al Lijazy says:

      Bismillah,In syaa Allah yang kami tahu perkataan itu bukan dari Imam Hasan al bashri tapi dari Said bin musayyib rahimahumallahu Ta’ala
      Sa’id bin Al-Musayyib melihat seseorang mengerjakan shalat lebih dari dua rakaat setelah fajar, orang itu memanjangkan ruku’ dan sujudnya, lantas beliau melarangnya. Maka orang itu berkata, “Wahai Abu Muhammad (Sa’id), apakah Allah akan mengazabku karena shalat?” Lalu beliau menjawab, “Tidak! Tetapi Allah akan mengazabmu karena engkau menyelisihi sunnah.” (Riwayat Ad-Darimi dalam Musnadnya 1/404)

      Sunnah yang dimaksud di sini adalah cara beribadah Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam. Syaikh Al-Albani rahimahullah berkata, “Ini adalah perkataan Sa’id bin Al-Musayyib yang sangat menakjubkan. Perkataan ini juga sebagai bantahan jitu atas ahlul bid’ah yang acap kali mengklaim baik kebanyakan bid’ah dengan alasan dzikir dan shalat! Sanad riwayat ini dinilai shahih oleh beliau. (Lihat “Irwa’ul Ghalil” 2/236)
      Untuk perkataan imam As Syaukani kami belum pernah tahu, coba antum cek sumbernya dari kitab apa perkataan itu dinukil, agar bisa kita bisa rujuk di kitab aslinya apa benar ucapan tersebut dari imam AsSyaukani atau bukan. Sebab dugaan kami tidak mungkin imam sekelas beliau akan menyelisihi sunnah yang mulia
      Dimana Imam Muslim meriwayatkan dari Abu Hurairah Radhiyallahu anhu, sesungguhnya Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:
      أَحَدُكُمْ مَا قَعَدَ يَنْتَظِرُ الصَّلاَةَ فِيْ صَلاَةٍ مَا لَمْ يُحْدِثْ تَدْعُوْ لَهُ الْمَلاَئِكَةُ :اَللَّهُمَّ اغْفِرْ لَهُ اَللَّهُمَّ ارْحَمْهُ.”
      “Tidaklah seseorang di antara kalian duduk menunggu shalat, selama ia berada dalam keadaan suci, melainkan para Malaikat akan mendo’akannya: ‘Ya Allah, ampunilah ia. Ya Allah, sayangilah ia.’” [Shahiih Muslim, kitab al-Masaajid wa Mawaadhi’ush Shalaah bab Fadhlu Shalaatil Jamaa’ah wa Intizhaarish Shalaah (I/460 no. 469 (276)).
      Allahua’lam

  • Abu tamara says:

    Bismillah,,ada pertanyaan ustadz ,,tentang alal bi halal,,sdh banyak sekali dan berulang ulang pertanyaan tentan masalah ini,,ttp ini agak lain,,
    1.Bagaimana hukumnya orang yg tdk merasa bersalah dan bahkan tidak pernah bertemu,,tetapi saling meminta maaf dan saling memaafkan
    2.Bagaiman hukumnya menghadiri undangan pengajian alal bi halal atau mengadakan pengajian alal bi halal,,
    Mohon penjelasan,,Jazakallahu khair,,
    3.Bagaimana hukum simakkan Al qur’an dng kronologis seperti ini,,Beberapa orang berkumpul dimasjid trus ada yg membaca dan ada yg menyimak,,jd klo ada bacaan yg salah lsng dibenarkan,,ttp kok dibikin groub,,jadi grub yg fasih baca Al qur’an klompok 1 selanjutnya orang yg belum fasih kelompok 2,,setelah iitu diatur grup 1 ditarget 2 jus selanjutnya yg grub 2 satu jus,,yg berurutan dng grub satu,,setelah selesai dogabung,,jd baca malam itu dpt 3 jus,,,Apakah bolih keadaan seperti ini uatadz
    Mohon penjelasan ustadz,,Barakallahufiik

    • Al Lijazy says:

      Bismillah
      Pertama: kami rasa yang seperti itu gak masalah. Sebab barang kali kita pernah punya salah tanpa kita tahu, soalnya tabiat manusia itu kalau urusan salah dan dosa gampang terlupakan, namun jika urusan kebaikan dan ibadah selalu dia ingat meskipun kecil dan sederhana, jadi gak masalah meskipun tidak pernah ketemu,jika ketemu saling berjabat tangan dan meminta maaf terhadap kesalahan yang disengaja maupun tidak.
      Kedua : untuk hukum menghadiri halal bi halal,terus terang kami juga belum tau persis halal bi halal itu hakikatnya apa,maka itu kita perlu tau dulu keyakinan mereka yang mengadakannya itu mereka maksudkan untuk Ibadah atau bukan. Kalu maksudnya ibadah tentunya tidak ada dalil tentang hal itu dan jatuhnya bid’ah yang kita tidak boleh untuk menghadirinya.
      Namun jika yang mereka maksudkan hanya adat semata, maka hukum adat asalnya boleh asal tidak bertentangan dengan syari’at, seperti perkataan Imam Asy-Syathibi beliau mengatakan:
      وإن العاديات من حيث هي عادية لا بدعة فيها، ومن حيث يُتعبَّد بها أو تُوْضع وضْع التعبُّد تدخلها البدعة.
      “Dan sungguh adat istiadat dari sisi ia adat, tidak ada bid’ah di dalamnya. Tapi dari sisi ia dijadikan/diposisikan sebagai ibadah, bisa ada bid’ah di dalamnya.” ( Al-I’tisham, 2/98)
      Demikian, maka halal bihalal atau apapun istilahnya, adalah kegiatan yang menjadi mubah, jika hanya dimaksudkan untuk mengungkapkan rasa gembira pada hari raya, baik Idul Fithri maupun Idul Adha ; misalnya untuk makan-makan bersama, bertemu keluarga dan handai taulan. Sebab memang diperbolehkan kaum musilmin mengungkapkan kegembiraan hatinya pada saat-saat hari raya, sepanjang kegembiraan itu tidak menyimpang dari ketentuan syar’i.
      Masalahnya sebatas yang kami tahu, memang terdapat banyak hal yang kemudian menyimpang dari ketentuan syariat, seperti ikhtilath (bercampur antara laki-laki dan perempuan bukan mahram), jabat tangan antara lawan jenis, hura-hura, pamer aurat, pamer kecantikan, nyanyian-nyanyian maksiat, main petasan dan lain sebagainya. Dan ini cukup bagi kita sebagai alasan tidak bolehnya menghadirinya.
      Sebab seharusnya Kegiatan-kegiatan maksiat semacam itulah yang semestinya harus dihindari. Di samping itu, kami rasa tidak usahlah kegiatan saling maaf memaafkan menjadi menu utama dalam acara berhari raya atau berhalal bihalal. Saling memaafkan tidak perlu menunggu acara halal bihalal. Anggapan bahwa saling memaafkan seakan-akan lebih afdhal jika dilakukan saat hari raya, adalah anggapan yang keliru. Dan saling maaf semacam itu lebih banyak bersifat semu. Tidak bersifat sungguh-sungguh dan ikhlas. Orang bilang : “Mumpung hari raya, kita saling memaafkan”. Akibatnya, orang begitu mudah untuk saling menyakiti, saling menzalimi dan saling melanggar hak pihak lain, dengan asumsi : “gampang, nanti minta maafnya pada hari raya saja”.
      Allahul Musta’an.
      Ketiga : untuk thoriqoh belajar dan membaca al qur’an seperti yang antum ceritakan in syaa Allah gak masalah kalau memang itu lebih bisa memudahkan mereka dalam memahami dalam belajar al Qur’an. Allahu a’lam

  • Abu tamara says:

    Na’am,,Barakallahufiikum wa jazakumullahu khairan kastiran,,,In syaa Allah menengenai Al imam hasan basri dan Al imam saukani,,In syaa Allah sy cari sum ernya lagi,,

  • Abu tamara says:

    Bismillah,,ada pertanyaan,,lg ustadz,,mengenai penyaluran zakat mal,,ada pertanyaan dr para pengusaha muda dan para pejabat muda,,selama ini mereka menyalurkan zakat mal melalui yayasan fulan,,atau kyai fulan atau ustadz fulan,,padahal disekitarnya bahkan saudaranya masih banyak yg miskin,,sakit sakitan,,putus sekolah,,””Bagaimana keadaan seperti ini ustadz,,mohon penjelasan,,Barakallahufiik

    • Al Lijazy says:

      Yang berhak menerima zakat selain zakat fithri adalah 8 asnaf yang telah ditetapkan syari’at dalam surat at taubah ayat 60. Maka dari itu barang siapa yang ingin menyalurkan zakat dan dia telah dapatkan salah satu atau lebih dari 8 asnaf tersebut yang telah sesuai syarat dan kategorinya, maka lebih afdhol di serahkan langsung pada mereka jika kita belum dapat keyakinan ilmu bahwa yayasan-yayasan tersebut bisa menyalurkan tepat sasaran. Dengan menyerahkan langsung kepada yang berhak kita memiliki keyakinan ilmu bahwa zakat kita benar-benar telah nyampai kepada tangan orang yang berhak, sehingga hilanglah segala keraguan. Allahua’lam

  • Abu tamara says:

    Na’am,,Barakallahufiikum,,syukran kastiran atas penjelasanya,,
    Ustadz In syaa Allah mengenai riwayat mengenai shalat sunnat sblm subuh,,dan ucapan Al imam Hasanun Basri rakhimakullah dan Al Imam As Syaukani rakhimakullah,,sdh ketemu,,tp in syaa Allah klo ada waktu longgar sy sowan sj,,jangan lewat web,,In syaa Allah

  • Abu tamara says:

    Bismillah,,afwan ustadz,,ada pertanyaan,,Apakah ada do’a khusus niat untuk membayar zakat fitrah ataupun zakat mal dan zakat yg lain yg hurus diucapkan dng jahr,,ketika muzaki menyerahkan ,zakat kpd amil zakat dan apakah ada do’anya jg ketika amil menerima zakat dari muzaki,,mohon penjelasan,, Barakallahufii

    • Al Lijazy says:

      Bismillah, sejauh ini kami belum mendapatkan keterangan maupun dalil shahih dalam bab fiqh zakat maupun yang lainnya tentang adanya niat jahr ketika menyerahkan maupun menerima zakat, maka itu jika ada yang melazimkannya maka harus mendatangkan dalil yang shahih dari Syara’. Allahua’lam

  • Abu tamara says:

    Pertanyaan kedua ustadz,,apakah ada ketentuan nishaf itu menirama zakat dlm jumlahnya,,misal sifulan seorang miskin maka dikasih beras segini kilo beras,,sifakir dikasih segini kilo,,atau simualaf dikasih segini kilo,,mohon penjelasan,,Barakallahufiik

    • Al Lijazy says:

      In syaa Allah tidak ada aturan baku dari syari’ah tentang berapa kadarnya dalam pembagian zakat, hanya saja mempertimbangkan mashlahat dari penerima zakat, semakin besar mashlahat bagi penerima zakat maka semakin baik, misalnya dengan mendapat zakat maka si fakir akan kecukupan dalam rentang waktu yang lama. Seperti kebiasaan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam beliau jika membagi zakat, yang bisa memenuhi faqir miskin tersebut dalam setahun, hingga tahun depan kembali dia mendapatkan bagian untuk setahun kedepannya, dan tidak diragukan lagi, cara Nabi Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam adalah cara terbaik dalam mengentas kemiskinan yang merupakan salah satu hikmah di syariatkan zakat dalam islam. Allahua’lam

  • Abu tamara says:

    Na’am,,syukran kastiran atas penjelasanya,,ada pertanyaan lg ustadz,,tentang membayar fidyah bagi orang yg mengandung/hamil tua,,yg memang sdh tdk memungkinkan menjalankan puasa ramadhan,,”Pertanyaanya adalah,,,
    “” Lebih afdhal mana pembayaranya dng makanan siap makan atau makanan mentah ( beras + telur dsb )
    “” Apakah boleh pembayaran diberikan dlm bentuk uang senilai fidyah yg harus dibayarkan
    “” Dan orang yg berhak menerima fidyah itu orang miskin yg seperti apa bagaimana kalau disalurkan kpd yayasan panti asuhan
    Mohon penjelasan,,ini pertanyaan dr ikhwan yg saat ini istrinya hamil,,Barakallahufiik wa Jazakumullahu khairan,,

    • Al Lijazy says:

      Bismillah,
      Allah Ta’ala berfirman,
      وَعَلَى ٱلَّذِينَ يُطِيقُونَهُ فِدْيَةٌ طَعَامُ مِسْكِينٍ فَمَن تَطَوَّعَ خَيْرًا فَهُوَ خَيْرٌ لَّهُ وَأَن تَصُومُواْ خَيْرٌ لَّكُمْ إِن كُنتُمْ تَعْلَمُونَ
      “Dan bagi orang yang berat menjalankannya, wajib membayar fidyah yaitu memberi makan seorang miskin. Tetapi barangsiapa dengan kerelaan hati mengerjakan kebajikan maka itu lebih baik baginya dan puasamu lebih baik bagimu jika kamu mengetahui” (QS. Al Baqoroh: 183)
      Penjelasan para Ulama’ yang Kita harus tahu adalah satu kaidah penting bahwa setiap lafadz ith’am (memberi makanan) atau tho’aaman (makanan) yang disebutkan Syara’ dalam Al Qur ‘an maupun As Sunnah, itu harus wajib berupa makanan,tidak boleh menggantinya dengan selain makanan,baik dengan uang maupun selainnya. Adapun tekhnis memberi makan sebagian Ulama’ menjelaskan dibolehkan dengan makanan matang maupun mentah,namun yang lebih afdhol adalah dengan makanan matang dan mengenyangkan, selain memberikan kemudahan bagi fakir miskin dengan tanpa repot memasaknya,ini juga merupakan praktek para sahabat Nabi seperti Anas bin Malik radhiallahu ‘anhu beliau mengumpulkan 30 orang miskin dan memberinya makan dengan tsariid sekaligus hingga mereka kenyang.
      Untuk kategori fakir miskin adalah mereka yang penghasilannya hari itu tidak mampu mencukupi kebutuhan hidupnya dalam sehari, untuk panti asuhan yatim piatu jika masuk kategori demikian berarti boleh menyalurkan ke mereka. Allahua’lam

  • Abu tamara says:

    Na’am,,Jazakallahu khair atas penjelasanya ustadz

  • Abu tamara says:

    Bismillah,,afwan ustadz ada pertanyaan,,Bagaimana hukumnya dlm Islam,,ketika ceramah / kajian,,tetapi menyampaikan dasar pembahasan yg bukan dr Al Qur’an,,assunnah dan ijma’ para Alim Ulama,,contoh seperti ini “.Penceramah melarang orang untuk bergadang sampai larut malam klo tdk ada artinya,,dasarnya adalah,,syair lagu Roma irama,,atau menyuruh orang bergotong royong,,tp dasarnya lagu lagu jawa,,dan dalam penyampaianya pun dengan melucu,,berpantung yg membuat jama’ah yg ada dimasjid itu terpingkal pingkal,,dan yg jd keheranan sy adalah,,kok penceramah seperti ini diundang dimana mana,,malah keliling Indonesia,,”” Mohon penjelasan Ustadz,,Jazakallahu khair

    • Al Lijazy says:

      Bismillah, Ashsholaatu wassalaaamu ‘ala Rasulillah wa man waalah
      Na’udzubillahi min dzaalik, Dakwah adalah tugas mulia dan amalan yang jelas bernilai ibadah. Jadi setiap amalan dan ibadah harus ikut apa yang telah dicontohkan oleh Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam, bukan malah membuat aturan sendiri bahkan improvisasi ibadah dengan menambah-nambahkan seperti itu. Karena dakwah bersifat tauqiffiyyah yang berarti harus berdasar petunjuk wahyu, maka barangsiapa yang membuat aturan sendiri,bukan kebaikan yang didapat,melainkan kerusakan dan keburukan. Allah Ta’ala berfirman
      …فَمَنِ اتَّبَعَ هُدَايَ فَلَا يَضِلُّ وَلَا يَشْقَى ..
      ”.Barangsiapa yang mengikut petunjuk-Ku, ia tidak akan sesat dan tidak akan celaka.” (QS.Thaha:123)
      Padahal orang yang suka melawak, jika mengetahui resiko dan ancamannya, pasti mereka akan lebih banyak yang menangis daripada tertawa.
      Adapun jika hanya diselingi sedikit humor saja asalkan bukan sesuatu yang dusta ataupun haram,maka Islam tidak melarang hal tersebut, karena Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam juga kadang bercanda dan menghidupkan suasana humoris ketika bergaul dengan sebagaian sahabatnya. Namun Islam membenci kedustaan dan kemunafikan dalam bergaya. Sehingga barang siapa yang memancing suasana agar semua tertawa walaupun dengan cara berdusta, maka ia terkena ancaman Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam.
      Dari Abu Hurairah, ia berkata bahwa Rasulullah bersabda: “Sesungguhnya ada seorang hamba berbicara dengan suatu kalimat; tidak diucapkan kecuali untuk membuat orang lain tertawa, maka ia terhempas ke dalam jurang jahannam sedalam antara langit dan bumi. Dan sungguh terpelesetnya lisan, lebih berat daripada seseorang terpeleset kakinya”.[ Shahîh, diriwayatkan Imam Muhammad at-Tibrizi dalam Miskâtul- Mashâbih, Bab: Mizah (4835), (3/1360).
      Dari Bahz bin Hakim dari bapaknya dari kakeknya berkata, bahwa Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:
      ويْلٌ لِلَّذِ ي يُحَدِّ ثُ بِا لْحَدِ يْثِ لِيُضحِكَ بِهِ الْقَوْمَ فَيَكْذِبُ وَيْلٌ لَهُ وَيْلٌ لَهُ
      Celakalah bagi seseorang yang bercerita dengan suatu cerita, agar orang lain tertawa maka ia berdusta, maka kecelakaan baginya, kecelakaan baginya. [Shahîh, diriwayatkan Imam at-Tirmdzi dalam Sunan-nya (2315) dan Imam at-Tibrizi dalam Miskâtul- Mashâbih, Bab: Hifzul-Lisan (4834), dan dishahihkan oleh Syaikh Muhammad Nashiruddin al-Albâni.
      Maka nasehat kami tinggalkan saja da’i-da’i seperti itu, namun jika memungkinkan untuk di nasehati maka sebaiknya sampaikan nasehat kepadanya agar dia mau bertaubat dari perbuatannya dan memperbaiki cara berda’wah dengan baik. Allahua’lam

      • Abu tamara says:

        Jazakumullahu khairan kastiran atas penjelasanya,,cuma heran sj,,yg trend saat ini kok model model begitu,,padahal hafalan qur’an buanyak,,Allahu A’lam

  • Abu tamara says:

    Bismillah,,ada pertanyaan lg ustadz,,Menjelaskan keutamaan bulan Ramadhan dng keaadan seperti ini,,”Bulan ramadhan keutamaanya sngt mulia yaitu didalamnya ada madrasah,,tarbiyah,,maghfirah,,surga dibuka selebar lebarnya,,neraka ditutup serapat rapatnya dan syaithanpun dibelenggu,,amal amal pahalanya dilipatgandakan,,tetapi ada pengibaratan seperti ini,,”Ketika bulan ramadhan itu bisa diibaratkan apabila seorang pedagang maka waktu kulakan amal yg sebanyak banyaknya,,apabila seorang petani maka waktunya untuk menanam yg sebanyak banyaknya,,dan apabila seorang pencari ilmu maka waktunya mencari yg sebanyak banayaknya,,karena yg pedagang pasti beruntung,,yg tani pasti berbuah,,dan yg mencari ilmu pasti mendapatkannya,,krn janji Allah amal perbuatan yg pasti dilipat gandakan pahalanya,,dan apa bila pahala itu boleh diibaratkan bahwa 1 ( satu ) itu sebesar karung,,maka betapa buanyak pahala yg kita dapatkan dan betapa banyak tempat yg harus dibutuhkan untuk menyimpanya,,,setelah itu penceramah menyampaikan pembatalan amal,,

    • Al Lijazy says:

      Bismillah, hingga saat ini kami belum pernah tahu ungkapan seperti itu tentang bulan Ramadhan dari para ulama’ kita, yang kami dapatkan perumpamaan dan penjelasan dari para Ulama’ yaitu:
      . Untuk menghadapi bulan Ramadhan para ulama terdahulu membiasakan amalan-amalan shalih semenjak datangnya bulan Sya’ban , sehingga mereka sudah terlatih untuk menambahkan amalan-amalan mereka ketika di bulan Ramadhan. Abu Bakr Al-Balkhi rahimahullah pernah mengatakan:
      شَهْرُ رَجَب شَهْرُ الزَّرْعِ، وَشَهْرُ شَعْبَانَ شَهْرُ سُقْيِ الزَّرْعِ، وَشَهْرُ رَمَضَانَ شَهْرُ حَصَادِ الزَّرْعِ.
      “Bulan Rajab adalah bulan menanam, bulan Sya’ban adalah bulan menyirami tanaman dan bulan Sya’ban adalah bulan memanen tanaman.” Dan Beliau juga mengatakan:
      مَثَلُ شَهْرِ رَجَبٍ كَالرِّيْحِ، وَمَثُل شَعْبَانَ مَثَلُ الْغَيْمِ، وَمَثَلُ رَمَضَانَ مَثَلُ اْلمطَرِ، وَمَنْ لَمْ يَزْرَعْ وَيَغْرِسْ فِيْ رَجَبٍ، وَلَمْ يَسْقِ فِيْ شَعْبَانَ فَكَيْفَ يُرِيْدُ أَنْ يَحْصِدَ فِيْ رَمَضَانَ.
      “Perumpamaan bulan Rajab adalah seperti angin, bulan Sya’ban seperti awan yang membawa hujan dan bulan Ramadhan seperti hujan. Barang siapa yang tidak menanam di bulan Rajab dan tidak menyiraminya di bulan Sya’ban bagaimana mungkin dia memanen hasilnya di bulan Ramadhan.”( Lihat: Lathaiful-Ma’arif libni Rajab Al-Hanbali hal. 130).
      Allahua’lam bish shawab.

  • Abu tamara says:

    Mohon dijelaskan ustadz,,Jazakallahu khair

  • Abu tamara says:

    Bismillah,,Na’am syukran kastiran atas penjelasanya ustadz,,Jazakallahu khairan kastiran,,

  • Abu tamara says:

    Bismillah,,afwan ustadz,,ada pertanyaan,,
    1.Tentang ibadah Qurban,,
    “” Bagaimana hukum dlm islam,,ketika ada shahibul qurban,,yg sdh istiqamah dlm berqurban,,,tetapi ketika dlm pemotongan itu dia banyak mengeluh,,,karena jijik,,bau,,amis,,jijik dengan kotoranya,,nanti habis buat pemotobgan tempatnya bau amis,,semuanya diserahkan ke tukang jagal,,,bayaran ketukang jagal jd nawar sampai mentok,,.
    Mohon penjelasan dengan keadaan seperti ini ustadz,,
    2.Tentang Hutang dan shadakah,,ada pertanyaan ,,Lebih utama mana ketika ada rizqi membayar hutang dulu atau menunda shadaqah
    Dan Bagaimana hukum orang yg gemar sekali shadaqah dng uang ttp masih banyak hutang,,
    Mengingat pentingnya dua permasalahan ini,,sy mohon penjesan untu jawaban si penanya ustadz,,Mohon penjelasan,,Barakallahufiik

  • Abu tamara says:

    Bismillah,,afwan ustadz,,ada pertanyaan tambahan
    1.Apakah ada aturan dalam pemyembelihan hewan qurban tentang cara ketika sipenyembelih menggerakkan pisau/golok,,itu harus hanya sekali gerakan,,dua kali gerakan,,atau tiga kali gerakan,,contohnya pisau/golok digerakkan pada leher hewan itu turun sekali naik skali lg kemudian turun lg,,,atau masalh gerakan pisau /golok tdk ada batasan,,yg penting sarat otot al wadjan dan yg lainya putus terpenuhi,,mohon penjelasan,,,Barakallahufiik

  • Abu tamara says:

    Bismillah,,afwan ustadz,,ada pertanyaan,,”Bagaimana hukum dalam Islam jika dlm penyembelihan hewan Qurban itu,,ada orang ahlul kitab/kafir yg membantu baik sukarela atau diundang ( silahkan besok datang bantu bantu dlm memotong ),,apakah diperbolehkan,,kalau ada riwayat dalil jika bolih atau dalil jika tidak bolih,,mohon penjelasan Ustadz,,Barakallahufiik

    • Al Lijazy says:

      bismillah, asalkan tidak ikut menyembelih in syaa Allah gak masalah, cuma sekedar bantu motong-motong daging atau bahkan mendapat bagian daging qurban in syaa Allah gak papa asalkan mereka bukan kafir harbi dan diutamakan sudah terpenuhinya bagian kaum muslimin yang ada. Allahua’lam

  • Abu tamara says:

    Na’am,,Barakallahufiikum wa jazakumullahu khairan,,atas penjelasanya ustadz

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *