salah-satu-ruangan-kerja-untuk-karyawan

Kelangsungan hidup yang penuh dengan keberkahan di dunia dan akhirat adalah impian dari setiap insan. Dan untuk mendapatkan itu semua tentunya tidak mudah terutama pada masa-masa akhir zaman seperti ini. Masa-masa dimana perekonomian sudah semakin sulit dan semakin ketatnya persaingan bisnis menyebabkan banyak kita jumpai disekitar kita banyak orang mencari penghidupan dengan tidak mempedulikan lagi halal dan haramnya,tidak mempedulikan lagi nilai-nilai Islam yang agung ini. Yang mana itu semua sudah di sabdakan Rasulullah saw :

أبي هريرة رضي الله عنه : عن النبي صلى الله عليه و سلم قال ( يأتي على الناس زمان لا يبالي المرء ما أخذ منه أمن الحلال أم من الحرام )

Dari Abu Hurairoh ra mengatakan:Dari Nabi saw bersabda :” Akan datang di tengah-tengah manusia suatu zaman dimana manusia pada saat itu sudah tidak mempedulikan lagi dari mana mereka mendapatkan sesuatu,apakah dari yang halalkah atau dari yang haram.”

Tentunya kita semua tidak ingin termasuk dari golongan tersebut. Kita ingin kehidupan kita penuh dengan berkah dan penghidupan kita mendapatkan keuntungan dari dua sisi, baik dari sisi dunia maupun dari sisi akhirat, yaitu mendapatkan pahala di sisi Allah swt.
Dengan demikian untuk meraih semua itu ada beberapa hal yang perlu kita ketahui dan kita kerjakan :
Yang pertama, jika kita sebagai pegawai, hendaklah didalam mengerjakan pekerjaan tersebut kita mngerjakannya dengan ikhlash dan sungguh-sungguh,juga dengan diniatkan ibadah mengharapkan pahala dari Allah swt. Sebab pekerjaan apapun asalkan halal jika kita niatkan ibadah maka insyaAllah akan mendapatkan pahala dari Alah swt. Seperti dalam Firman Allah swt dalam Al Qur’an surat An nisa 114 :
لَا خَيْرَ فِي كَثِيرٍ مِنْ نَجْوَاهُمْ إِلَّا مَنْ أَمَرَ بِصَدَقَةٍ أَوْ مَعْرُوفٍ أَوْ إِصْلَاحٍ بَيْنَ النَّاسِ وَمَنْ يَفْعَلْ ذَلِكَ ابْتِغَاءَ مَرْضَاةِ اللَّهِ فَسَوْفَ نُؤْتِيهِ أَجْرًا عَظِيمًا
“Tidak ada kebaikan pada kebanyakan bisikan-bisikan mereka, kecuali bisikan-bisikan dari orang yang menyuruh (manusia) memberi sedekah, atau berbuat ma’ruf, atau Mengadakan perdamaian di antara manusia. dan Barangsiapa yang berbuat demikian karena mencari keredhaan Allah, Maka kelak Kami memberi kepadanya pahala yang besar.”
Dan Rasulullah saw bersabda:

عن أبي مسعود عن النبي صلى الله عليه و سلم قال ( إذا أنفق الرجل على أهله يحتسبها فهو له صدقة )

“ Dari Abu Mas’ud berkata : dari Nabi saw bersabda :jika seorang memberi nafkah kepada keluarganya dengan mengharap wajah Allah swt maka baginya akan dihitung sebagai shodaqah.”

Rasulullah saw juga bersabda :

..ولست تنفق نفقة تبتغي بها وجه الله إلا أجرت بها حتى اللقمة تجعلها في في امرأتك
“…Dan tidaklah kamu menginfaqkan sesuatu dengan mengharap wajah Allah swt kecuali kamu akan di beri pahala atasnya.Walaupun itu hanya berupa satu suapan ke mulut istrimu.”

Yang kedua,wajib bagi pegawai untuk menjaga waktunya yang dikhususkan untuknya bekerja. Tidak boleh menyibukkan dengan perkara-perkara diluar pekerjaan pada waktu yang kita digaji untuk pekerjaan tersebut. Sebab itu adalah amanah dari pemberi pekerjaan. Juga pekerja tidak boleh mengurangi dari waktu yang telah diamanahkan oleh pemberi pekerjaan. Misalkan pekerja digaji untuk bekerja dari jam 8 pagi sampai jam 5 sore,maka haram bagi pekerja itu untuk datang terlambat dan pulang lebih awal kecuali udzur dan di izinkan oleh pemberi pekerjaan. Kalau tetap dikerjakan maka dia telah melakukan korupsi waktu, dan uang yang senilai dengan berapa jam yang telah dia korupsi tersebut haram baginya. Sebab Rasulullah saw bersabda

… وَإِنَّهَا أَمَانَةٌ وَإِنَّهَا يَوْمَ الْقِيَامَةِ خِزْىٌ وَنَدَامَةٌ إِلاَّ مَنْ أَخَذَهَا بِحَقِّهَا وَأَدَّى الَّذِى عَلَيْهِ فِيهَا ».

“…dan sesungguhnya itu adalah amanah dan sesungguhnya amanah itu merupakan kesedihanan dan kesengsaraan di hari kiamat, kecuali bagi mereka yang mengambil sesuatu sesuai dengan haknya dan menunaikannya sesuai dengan yang di amanahkan kepadanya.”(Shohih Muslim 4823)

Lagipula mereka harus berpikiran logis, bahwasannya kalau dalam hal gaji mereka menginginkan mendapatkannya secara utuh tanpa dikurangi sedikitpun demikian juga dalam hal waktu kerja mereka juga harus menjaga dari mengurangi waktu kerja yang diamanahkan atau mempergunakan waktu kerja untuk mengerjakan hal yang lain diluar pekerjaan.
Maka ingatlah bahwa Allah swt mencela orang yang curang di dalam menakar dan menimbang,tatkal ketika dia menerima takaran dari orang lain dia minta dipenuhi,tapi kalau dia yang menakar dan menimbang untuk orang lain dia menguranginya. Seperti pada firman Allah swt :

وَيْلٌ لِلْمُطَفِّفِينَ (1) الَّذِينَ إِذَا اكْتَالُوا عَلَى النَّاسِ يَسْتَوْفُونَ (2) وَإِذَا كَالُوهُمْ أَوْ وَزَنُوهُمْ يُخْسِرُونَ (3) أَلَا يَظُنُّ أُولَئِكَ أَنَّهُمْ مَبْعُوثُونَ (4) لِيَوْمٍ عَظِيمٍ (5) يَوْمَ يَقُومُ النَّاسُ لِرَبِّ الْعَالَمِينَ (6)

1.Kecelakaan besarlah bagi orang-orang yang curang (orang-orang yang curang di sini ialah orang-orang yang curang dalam menakar dan menimbang),2. (yaitu) orang-orang yang apabila menerima takaran dari orang lain mereka minta dipenuhi,3. dan apabila mereka menakar atau menimbang untuk orang lain, mereka mengurangi.4. tidaklah orang-orang itu menyangka, bahwa Sesungguhnya mereka akan dibangkitkan,5. pada suatu hari yang besar, 6.(yaitu) hari (ketika) manusia berdiri menghadap Tuhan semesta alam.( Surat Al Muthaffifin 1-6)

Yang ketiga, wajib bagi para pegawai untuk menjaga kehormatan dirinya untuk tidak menerima riswah (suap). Yaitu menerima sesuatu dengan tujuan membuat batil sesuatu yang hak dan membuat hak sesuatu yang batil. Sebab Rasulullah melaknatnya,seperti yang diriwayatkan Tsauban ra Rasulullah saw bersabda:

عَنْ ثَوْبَانَ ، رَضِيَ الله عَنْهُ ، قَالَ : لَعَنَ رَسُولُ اللهِ صَلَّى الله عَلَيه وسَلَّم الرَّاشِيِ وَالْمُرْتَشِيَ …

“ Rasulullah saw melaknat orang yang menyuap dan yang disuap.”

Yang ke empat,Selain suap juga dilarang bagi pegawai untuk menerima hadiah dari pihak luar yang berkaitan dengan pekerjaannya. Misalkan dia bekerja di sebuah perusahaan sebagai bagian pengadaan barang. Ketika dia mengadakan barang dia bekerja sama dengan sebuah distributor,lalu karena dia sering membeli barang dengan jumlah besar maka distributor itu memberikan hadiah untuk pegawai tersebut. Maka mengambil hadiah itu haram bagi pegawai tersebut sebab itu adalah hak perusahan bukan hak pegawai. Demikian juga berbagai jenis hadiah berupa tips ,bonus dari customers (pelanggan), itu tidak ada hak bagi pegawai untuk menerimanya kecuali perusahaan tempat dia bekerja mengizinkan. Semua itu berdasarkan sabda Rasulullah saw :

عَنْ أَبِي حُمَيْدٍ السَّاعِدِيِّ أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ هَدَايَا الْعُمَّالِ غُلُولٌ
“Rasulullah saw bersabda : Hadiah bagi pegawai itu barang curian.”(diriwayatkan Imam Ahmad di musnadnya no 23601)

Juga berdasarkan sabda Rasulullah saw dari abu humaid As Sa’idiy:

عَنْ أَبِى حُمَيْدٍ السَّاعِدِىِّ قَالَ اسْتَعْمَلَ رَسُولُ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- رَجُلاً مِنَ الأَسْدِ يُقَالُ لَهُ ابْنُ اللُّتْبِيَّةِ – قَالَ عَمْرٌو وَابْنُ أَبِى عُمَرَ عَلَى الصَّدَقَةِ – فَلَمَّا قَدِمَ قَالَ هَذَا لَكُمْ وَهَذَا لِى أُهْدِىَ لِى قَالَ فَقَامَ رَسُولُ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- عَلَى الْمِنْبَرِ فَحَمِدَ اللَّهَ وَأَثْنَى عَلَيْهِ وَقَالَ « مَا بَالُ عَامِلٍ أَبْعَثُهُ فَيَقُولُ هَذَا لَكُمْ وَهَذَا أُهْدِىَ لِى. أَفَلاَ قَعَدَ فِى بَيْتِ أَبِيهِ أَوْ فِى بَيْتِ أُمِّهِ حَتَّى يَنْظُرَ أَيُهْدَى إِلَيْهِ أَمْ لاَ وَالَّذِى نَفْسُ مُحَمَّدٍ بِيَدِهِ لاَ يَنَالُ أَحَدٌ مِنْكُمْ مِنْهَا شَيْئًا إِلاَّ جَاءَ بِهِ يَوْمَ الْقِيَامَةِ يَحْمِلُهُ عَلَى عُنُقِهِ بَعِيرٌ لَهُ رُغَاءٌ أَوْ بَقَرَةٌ لَهَا خُوَارٌ أَوْ شَاةٌ تَيْعِرُ ». ثُمَّ رَفَعَ يَدَيْهِ حَتَّى رَأَيْنَا عُفْرَتَىْ إِبْطَيْهِ ثُمَّ قَالَ « اللَّهُمَّ هَلْ بَلَّغْتُ ». مَرَّتَيْنِ.

“Dari Abu Humaid As Sa’idiy berkata bahwasannya Rasulullah pernah mempekerjakan seorang dari bani asad dia bernama Ibnu luthbiyah sebagai pemungut zakat. Maka berkata Amr dan ibnu abi umar: maka ketika dia (ibnu luthbiyah) sampai,dia berkata:”ini untuk kalian dan ini untukku (sebab) ini dihadiahkan untukku. Lalu beliau berkata : Maka Rasulullah saw berdiri di atas mimbar lalu memuji dan menyanjung Allah swt lalu berkata :”Ada apa dengan pekerja ini,aku mengutusnya (untuk memungut pajak) lalu dia berkata ini untuk kalian dan ini untukku (sebab) ini dihadiahkan untukku. Kenapa dia tidak duduk saja di rumah bapak atau rumah ibunya,lalu dia lihat apa ada yang memberi hadiah atau tidak? Maka demi Dzat yang jiwa Muhammad saw berada di tanganNya,tidaklah salah seorang dari kalian mengambil sesuatu darinya maka kelak dia datang pada hari kiamat dengan keadaan lehernya memikul onta yang bersuara atau sapi yang bersuara atau kambing yang bersuara keras. Kemudian Nabi saw mengangkat tangannya sampai kami bisa melihat putihnya ketiak Beliau saw dan berkata :”Ya Allah..bukankah aku sudah menyampaikan”. Beliau berucap dua kali.”(Riwayat Imam Muslim 4843)
Hadits ini menunjukkan bahwa pegawai tersebut mendapatkan hadiah,bonus atau tips dari seseorang dengan sebab dia menjabat pekerjaan tertentu. Seandainya dia tidak bekerja dengan pekerjaan itu maka tidak akan ada yang mau memberikannya hadiah. Karena hadiah tersebut biasanya sebagai ungkapan terima kasih karena bagusnya pelayanan,dan lain sebagainya Untuk itu segala bentuk hadiah tersebut adalah hak mutlak bagi perusahaan yang mempekerjakannya. Dan pegawai hanya berhak mendapatkan gaji dan mungkin bonus atas pekerjaannya dari perusahaannya.
Demikianlah sedikit dari banyak hal yang harus kita perhatikan jika kita sebagai pegawai. Mudah-mudahan dengan yang sedikit ini bisa memberikan nasehat dan manfaat bagi kita. Kita berharap Allah swt senantiasa memudahkan kita untuk mengamalkannya demi mengharap RidhoNya dan kehidupan yang penuh berkah di dunia dan akhirat. Allahul musta’aan.

Disadur oleh : Abu Usamah Yahya Allijaziy dari Kitab Kaifa yu’addil muwadzdzofu al amaanata, Syeikh Abdul Muhsin Al Abbad Hafidzahulloh

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *