Membersihkan Pakaian Yang Terkena Darah Haid

Yaitu dengan digosok dan dikerik dengan ujung jari agar kotoran lepas dan hilang, kemudian dicuci dengan air. Dasarnya adalah hadits Asma binti Abu Bakar, ia berkata, “Seorang wanita pernah mendatangi Nabi shallallahu alaih wa sallam, lalu bertanya, ‘Salah seorang dari kami pakaiannya terkena darah haid. Apa yang harus ia lakukan?” Nabi bersabda, “Engkau kerik, lalu kucek dengan air, kemudian perciki. Setelah itu engkau bisa menggunakannya untuk shalat.” (HR. al-Bukhari dan Muslim 192)

Jika digunakan batang kayu atau sejenisnya untuk menghilangkan darah tersebut, atau ia dicuci dengana air dan sabun atau pembersih, maka itu lebih baik. Berdasarkan hadits Ummu Qais, ia berkata, “Aku bertanya kepada Nabi shallallahu alaih wa sallam tentang darah haid yang ada pada pakaian, maka beliau menjawab, ‘Keriklah dengan kayu, lalu cucilah dengan air dan daun bidara’.” (HR. Abu Dawud 363)

 

Membersihkan Pakaian Dari Air Seni Anak Yang Masih Minum ASI (Belum Makan Makanan Padat Atau Tambahan)

Rasulullah shallallahu alaih wa sallam bersabda, “ (Pakaian) yang terkena air seni anak perempuan harus dicuci, sedangkan yang terkena air seni anak laki-laki cukup dipercikkan.” (HR. Abu Dawud 376)

 

Membersihkan Pakaian Yang Terkena Madzi

Madzi seringkali sulit dihindari, sehingga cara pensuciannya dimudahkan. Yaitu cukup dengan memercikan air pada bagian pakaian yang terkena madzi tersebut.

Dasarnya adalah hadits Sahal bin Hunaif. Karena selalu mengeluarkan madzi, ia bertanya kepada Nabi shallallahu alaih wa sallam, “Bagaimana dengan pakaianku yang terkena madzi?” Nabi menjawab, “Engkau cukup mengambil seciduk air, lalu engkau percikkan pada pakaianmu hingga engkau lihat ia sudah mengenainya.” (HR. Abu Dawud 210)

 

Membersihkan Bagian Ujung Pakaian Wanita yang Menjulur ke Tanah

Jika bagian ujung pakaian wanita yang menjulur ke tanah terkena najis, sesungguhnya ia tersucikan bila bersentuhan dengan tanah yang bersih. Seorang wanita pernah bertanya kepada Ummu Salamah (istri Nabi shallallahu alaih wa sallam), “Aku adalah seorang wanita yang memanjangkan ujung pakaianku, lantas bagaimana jika aku berjalan di tempat yang kotor?” Ummu Salamah menjawab, “Nabi shallallahu alaih wa sallam bersabda, ‘Ia disucikan dengan tanah sesudahnya (yang bersih).” (HR. Abu Dawud 383)

 

Membersihkan Bagian Bawah Sandal

Diriwayatkan dari Abu Sa’id radhiyallahu anhu, Rasulullah shallallahu alaih wa sallam bersabda, “Jika salah seorang dari kalian datang ke masjid, hendaknya ia membalik sandal dan melihatnya. Jika ia melihat ada kotoran, hendaklah ia menggosok-gosoknya ke tanah. Kemudian silahkan ia gunakan untuk shalat.” (HR. Abu Dawud 646)

 

Mensucikan Bejana Bila Ada Anjing yang Minum darinya

Diriwayatkan dari Abu Hurairah radhiyallahu anhu, Rasulullah shallallahu alaih wa sallam bersabda, “Cara mensucikan bejana salah seorang dari kalian, apabila anjing minum darinya ialah dengan mencucinya sebanyak tujuh kali, lumuran yang pertama dengan tanah.” (HR. Muslim dan selainnya)

 

 

Mensucikan Tanah yang Terkena Air Seni dan yang Sejenisnya

Yaitu dengan menyiramnya, seperti yang dilakukan oleh Nabi shallallahu alaih wa sallam ketika ada orang arab badui kencing di masjid. Beliau memerintahkan untuk menyiramkan air pada bekas air seni orang arab badui tersebut. Beliau memerintahkan demikian agar najis tersebut segera bersih/suci. Jika dibiarkan hingga kering dan hilang bekas-bekas najisnya, maka tanah itu kembali menjadi suci.

 

Mensucikan Sumur Atau Minyak yang Kejatuhan Najis

Yaitu dengan mengambil dan menghilangkan benda najis tersebut berikut apa yang ada di sekitarnya. Adapun selebihnya, maka ia tetap suci. Dasarnya adalah hadits dari Ibnu Abbas radhiyallahu anhu, Nabi shallallahu alaih wa sallam ditanya tentang bangkai yang jatuh pada minyak (yang kental), maka beliau bersabda, “Buanglah tikus itu dan (minyak) yang ada di sekitarnya. Makanlah minyak yang tersisa.” (HR. al-Bukhari)

 

Untuk Menghilangkan Najis, Apakah Harus dengan Air? Bolehkah dengan Cairan Selainnya?

Para ulama berselisih pendapat dalam hal ini. Dua pendapat yang populer adalah sebagai berikut:

Pertama, untuk menghilangkan najis harus dengan air. Tidak sah dengan selain air, kecuali ada dalil yang menunjukkan hal tersebut.

Pendapat inilah yang terkenal di kalangan mazhab Imam Malik dan Ahmad, serta merupakan pendapat terbaru Imam Syafii. Pendapat ini didukung oleh asy-Syaukani dan orang-orang yang mengikutinya. Hujjah mereka adalah sebagai berikut:

–          Firman Allah Taala, “Dan Allah menurunkan kepadamu hujan dari langit untuk mensucikan kamu dengan hujan itu.” (al-Anfaal: 11)

–          Perintah Nabi shallallahu alaih wa sallam untuk menyiramkan air pada air seni orang Arab Badui. Menurut mereka, perintah ini menunjukkan kewajiban, sehingga tidak sah menghilangkan najis dengan selain air.

–          Perintah Nabi shallallahu alaih wa sallam dalam hadits Abu Tsa’labah untuk mencuci bejana-bejana Ahli Kitab dengan air.

–          Asy-Syaukani rahimahullaah berkata, “Air adalah bahan asal untuk mensucikan najis, karena Penetap Syariat menyifatinya sebagai benda yang mensucikan. Oleh karena itu, ia tidak dapat diganti dengan yang lain kecuali ada ketetapan sah dari syariat. Jika tidak ada, seseorang tidak boleh berpaling dari sesuatu yang sudah dimaklumi kesuciannya kepada sesuatu yang belum diketahui kesuciannya. Dan yang demikian berarti keluar dari jalur syariat.”

Kedua, sah mensucikan sesuatu dengan bahan apapun yang dapat menghilangkan najis. Tidak disyariatkan harus dengan air.

Ini merupakan mazhab Imam Abu Hanifah, sebuah pendapat lain yang diriwayatkan dari Imam Malik dan Imam Ahmad, pendapat lama Imam Syafi’i, pendapat Ibnu Hazm dan Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah, serta Allamah Ibnu Utsaimin. Pendapat inilah yang lebih kuat berdasarkan argumen sebagai berikut:

–          Sifat air sebagai benda yang suci lagi mensucikan tidaklah menafikan sifat benda lain yang juga suci mensucikan sepertinya. Sebuah kaidah mengatakan, ‘Tidak adanya sebab tertentu bukan berarti akibat tertentu juga tidak ada, baik itu berupa dalil atau bukan dalil’. Karena bisa jadi ada perkara lain yang menyebabkan akibat tersebut. Demikianlah yang terjadi dalam masalah najis ini. Bahkan sebagian cairan, seperti cuka dan cairan pembersih buatan tertentu dapat menghilangkan najis seperti air, bahkan lebih bersih lagi.

–          Syariat hanya memberikan perintah untuk membersihkan najis dengan air pada kasus tertentu saja, dan tidak memerintahkan secara umum untuk menghilangkan semua najis dengan air.

–          Syariat memberikan kebolehan untuk membersihkan sebagian najis dengan bahan selain air, seperti beristinja dengan batu, menggosok sandal dengan tanah, membersihkan bagian ujung pakaian wanita yang menjulur dengan tanah, dan lain-lain seperti yang telah dijelaskan.

–          Menghilangkan najis bukan termasuk ke dalam bab ‘sesuatu yang diperintahkan’, akan tetapi tergolong ke dalam bab ‘menjauhi sesuatu yang dilarang’. Pada saat seorang hamba terkena najis, dengan sebab apapun, berlakulah hukumnya ketika itu juga. Karenanya, untuk menghilangkan najis, tidak disyariatkan niat. Namun jika najis itu hilang dengan perbuatan seorang hamba bersamaan ada niat, hamba tersebut mendapat pahala. Jika najis itu hilang dengan sendirinya tanpa perbuatan atau niat untuk menghilangkannya, hilanglah mafsadat najis itu. Tetapi, dalam hal ini, orang yang bersangkutan tidak mendapatkan pahala dan tidak pula mendapatkan hukuman.

Salah satu bukti yang mendukung hal ini adalah bahwa khamr yang berubah menjadi cuka dengan sendirinya, ia menjadi suci -bagi yang mengatakan khamr itu najis- berdasarkan kesepakatan kaum muslimin.

Dengan demikian, pendapat yang lebih kuat adalah jika najis hilang dengan sesuatu, maka hukumnya juga hilang dan benda yang terkena najis kembali menjadi suci.

 

Ada beberapa faidah lain yang perlu diperhatikan.

–          Siapa saja yang pakaian atau badannya terkena najis, lalu ia menggunakan sesuatu yang dapat membuatya menjadi bersih dan suci -selain air- maka itu sudah mencukupi dan tidak harus mencucinya dengan air lagi.

–          Tidak boleh menggunakan makanan atau minuman untuk menghilangkan najis tanpa adanya kebutuhan, karena termasuk merusak harta.

–          Kesucian yang dihasilkan dengan selain air, berupa benda-benda cair atau selainnya, hanya berlaku untuk najis haqiqi yang mengenai pakaian, tubuh dan tempat. Adapun bersuci yang bersifat hukum, seperti wudhu, mandi dan selainnya, tidak boleh dilakukan selain dengan air.

 

(Sumber: Shahih Fiqh Sunnah, Abu Malik Kamal bin as-Sayyid Salim)

Silahkan Download File Pdf: Download

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *