1011810_836794033002980_4146645740392418733_n

Fasal kedelapan : Amalan-amalan Shalih Yang Bisa Menjadi Sebab Mendapatkan Syafaat

Suatu yang tidak diragukan lagi dari sebab terbesar dan paling utama utama untuk mendapatkan syafaat adalah memurnikan tauhid dan keikhlasan kepada Allah I, serta memurnikan al-ittibaa’ (mengikuti dan meneladani) petunjuk Rasulullah r.
Selain itu, dalam hadits-hadist yang shahih Rasulullah r menyebutkan beberapa amalan shalih yang bisa menjadi sebab untuk mendapatkan syafaat pada hari kiamat nanti, di antaranya:
1. Membaca al-Qur’an dengan merenungi kandungan maknanya. Seperti riwayat dari Abu Umamah al-Bahili t bahwa Rasulullah r bersabda,
اِقْرَؤُا اْلقُرْآنَ، فَإِنَّهُ يَأْتِي يَوْمَ الْقِيَامَةِ شَفِيْعًا لِأَصْحَابِهِ
“Bacalah al-Qur’an, karena sesungguhnya bacaan al-Qur’an itu akan datang pada hari kiamat untuk memberi syafaat bagi orang-orang yang membacanya (sewaktu di dunia).” ) Hadits shahih riwayat Muslim (no. 804).(
2. Memperbanyak sujud (shalat-shalat sunnah setelah melaksanakan shalat-shalat yang wajib).
عَنْ زِيَادِ بْنِ أَبِي زِيَادٍ ، عَنْ خَادِمٍ رَسُولُ اللهِ صَلَّى الله عَلَيه وسَلَّم رَجُلٍ أَوِ امْرَأَةٍ ، قَالَ : كَانَ رَسُولُ اللهِ صَلَّى الله عَلَيه وسَلَّم يَقُولُ : أَلَكَ حَاجَةٌ ؟ حَتَّى كَانَ ذَاتَ يَوْمٍ ، فَقَالَ : يَا رَسُولَ اللهِ ، حَاجَتِي ، قَالَ : وَمَا حَاجَتُكَ ؟ قَالَ : حَاجَتِي أَنْ تَشْفَعَ لِي يَوْمَ الْقِيَامَةِ ، قَالَ : وَمَنْ دَلَّكَ عَلَى هَذَا ؟ قَالَ : رَبِّي ، قَالَ : فَأَعِنِّي بِكَثْرَةِ السُّجُودِ.
“Dari Ziyad bin Abi Ziyad dari seorang pelayan laki-laki atau wanita , Rasulullah r berkata : Pada suatu hari Rasulullah r bertanya : “Apa kamu memiliki keperluan?”, Dia menjawab: Aku memiliki keperluan. Lalu Rasulullah bertanya : “Apa keperluanmu?, Dia menjawab :“Keperluanku adalah agar engkau (wahai Rasulullah r) memberi syafaat bagiku pada hari Kiamat.” Maka, Rasulullah r bersabda, “Bantulah aku (untuk keperluanmu itu) dengan memperbanyak sujud (shalat-shalat sunnah).” ) Ahmad (3/500), dinyatakan shahih oleh Syaikh al-Albani dalam Ash-Shahiihah (no. 2102).(
3. Banyak berpuasa, baik yang wajib maupun yang sunnah/ anjuran. Seperti dalam riwayat dari ‘Abdullah bin ‘Amr bin ‘al-’Ash C bahwa Rasulullah r bersabda :
الصِّيَامُ وَ اْلقُرْآنُ يَشْفَعَانِ لِلْعَبْدِ يَقُوْلَ الصِّيَامُ : رِبِّ إِنِّي مَنَعْتُهُ الطَّعَامَ وَالشَّرابَ بِالنَّهَارَ فَشَفِّعْنِي فِيهِ ، وَيَقُولُ الْقُرْآنُ رَبِّ مَنَعْتُهُ النَّوْمَ بِاللَّيْلِ فَشَفِّعْنِي فِيهِ ، فَيَشْفَعَانِ.
“Puasa dan al-Qur’an akan memberikan syafaat pada hari kiamat bagi seorang hamba (yang mengamalkannya). Puasa berkata, ‘Wahai Rabb-ku, aku telah mencegahnya dari makan dan syahwatnya di siang hari, maka izinkanlah aku memberi syafaat kepadanya.’. (Bacaan) al-Qur’an (juga) berkata, ‘Wahai Rabb-ku, aku telah mencegahnya dari tidur di malam hari, maka izinkanlah aku memberi syafaat kepadanya.’” Rasulullah r bersabda, “Maka, keduanya pun diizinkan memberi syafaat.“ ) Imam Ahmad (2/174), Abu Nu’aim dalam Hilayatul Auliyaa’ (8/161) dan al-Hakim (1/740), dari dua jalur yang saling menguatkan. Hadits ini dinyatakan shahih oleh al-Hakim, disepakati oleh adz-Dzahabi, dan dinyatakan hasan oleh Syaikh al-Albani dalam kitab Tamaamul Minnah (hal. 394).(

4. Tinggal di kota Madinah Al Munawwarah, bersabar atas kesusahannya dan meninggal dunia di sana. Ini disebutkan dalam beberapa hadits shahih diantaranya apa yang diriwayatkan oleh Ibnu Umar C bahwa Rasulullah r bersabda :
مَنْ اسْتَطَاعَ أَنْ يَمُوتَ بِالْمَدِينَةِ فَلْيَفْعَلْ فَإِنِّي أَشْفَعُ لِمَنْ مَاتَ بِهَا
“Barangsiapa yang mampu meninggal di Madinah maka lakukanlah, karena sesungguhnya aku akan memberikan syafaat bagi mereka yang meninggal di dalamnya.” ) Di antaranya hadits shahih riwayat Muslim (no. 1374 dan 1377), juga hadits riwayat at-Tirmidzi (no. 3917), Ibnu Majah (no. 3112), Ahmad (2/74) dan Ibnu hibban (no. 3741), dinyatakan shahih oleh Ibnu Hibban dan al-Albani.(

5. Membaca shalawat kepada Rasulullah r dan meminta al-wasiilah untuk beliau (seperti yang diucapkan pada doa setelah mendengar azan selesai dikumandangkan). Seperti dalam hadist yang shahih dari Abdullah bin Amr bin ‘Ash t berkata, Rasulullah r bersabda :
إِذَا سَمِعْتُمُ الْمُؤَذِّنَ فَقُولُوا مِثْلَ مَا يَقُولُ ثُمَّ صَلُّوا عَلَىَّ فَإِنَّهُ مَنْ صَلَّى عَلَىَّ صَلاَةً صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ بِهَا عَشْرًا ثُمَّ سَلُوا اللَّهَ لِىَ الْوَسِيلَةَ فَإِنَّهَا مَنْزِلَةٌ فِى الْجَنَّةِ لاَ تَنْبَغِى إِلاَّ لِعَبْدٍ مِنْ عِبَادِ اللَّهِ وَأَرْجُو أَنْ أَكُونَ أَنَا هُوَ فَمَنْ سَأَلَ لِىَ الْوَسِيلَةَ حَلَّتْ لَهُ الشَّفَاعَةُ
“Jika kalian mendengar muadzin, maka ucapkanlah seperti apa yang diucapkannya, kemudian bershalawatlah kalian kepadaku, karena barangsiapa yang bershalawat kepadaku sekali maka Allah I akan membalasnya sepuluh kali kepadanya, kemudian mintalah kepada Allah I wasilah untukku, karena sesungguhnya ia itu adalah kedudukan yang tinggi di surga, yang tidak pantas (ditempati) kecuali oleh seorang hamba dari para hamba-hamba Allah I. Dan aku berharap akulah hamba tersebut. Barangsiapa yang memohon wasiilah untukku, maka dia berhak (mendapatkan) syafaatku.” ) Shahih mukhtashar Muslim no : 198, Muslim 1/288, Aunul Ma’bud 2/225 dan selainnya.(
6. Jenazah yang dishalatkan oleh empat puluh orang ahli tauhid. Dari Abdullah bin ‘Abbas C beliau berkata, “Sungguh aku mendengar Rasulullah r bersabda :
مَا مِنْ رَجُلٍ مُسْلِمٍ يَمُوتُ فَيَقُومُ عَلَى جَنَازَتِهِ أَرْبَعُونَ رَجُلاً لاَ يُشْرِكُونَ بِاللَّهِ شَيْئًا إِلاَّ شَفَّعَهُمُ اللَّهُ فِيهِ
“Tidaklah seorang muslim meninggal dunia lalu jenazahnya dishalatkan oleh empat puluh orang yang tidak menyekutukan Allah dengan sesuatu, kecuali Allah akan menerima/ mengabulkan syafaat mereka terhadapnya.” )Muslim 2242(

7 Comments

  • Abu tamara says:

    Bismillah,,afwan ustazd,,ada pertanyaan,,”
    1.Apakah ada rukun aqiqah
    2.Apakah ada niat khusus untuk melakukan aqiqah
    3.Apakah ketika anak sdh dewasa dan baru bisa mengaqiqahkan rambut sianak jg harus dipotong,,
    4.Apakah do’a dlm menyembelih hewan sm dengan ketika menyembelih pada umumnya,,atau ada do’a tersendiri ( bagaimana lafadnya )
    5.Apa hukum aqiqah,,dan apakah bener aqiqah bisa membersihkan anak dr gangguan syaithan,,dan aqiqah sbg penghubung safaat anak kpd orang tuanya,,
    Mohon penjelasanya ustazd,,Barakallahufiikum

    • Al Lijazy says:

      Bismillah,washsholaatu wassalaamu ‘ala nabiyyinaa muhammad waman waalahu
      Pertama : jika kita membicarakan rukun-rukun aqiqah dalam pandangan syari’at adalah bisa meliputi hal-hal sebagai berikut : rukun aqiah dalam hal waktu/kapan dilakukannya aqiqah dan hewan sembelihannya, kemudian rukun aqiqah tentang kapan rambut si bayi dicukur, kemudian rukun aqiqah tentang apa yang kita lakukan dengan cukuran rambut bayi tersebut. Allahua’lam
      Kedua: tentang niat itu harus ada dalam pelaksanaan aqiqah, sebab niat tersebut yang membedakan antara adat dan ibadah. Allahua’lam
      Ketiga : untuk mencukur rambut di syari’atkan hanya ketika masih bayi dan dilanjutkan melaksanakan hukum-hukum seputar itu
      Keempat : BACAAN SAAT MENYEMBELIAH HEWAN AKIKAH

      Sunnah membaca ::
      (sebutkan nama بسم الله، اللهم لك وإليك عقيقة
      Tulisan latin: Bismillah Allahumma laka wa ilaika aqiqatu …. [sebutkan nama]
      Kelima : HUKUM AQIQAH

      Ada tiga pendapat ulama dalam masalah status hukum akikah yaitu wajib, sunnah mu’akkad dan sunnah. Menurut madzhab Syafi’i hukumnya adalah sunnah (mustahab) apabila mampu. Sedangkan Jumhur Ulama’ memandang hukumnya adalah sunnah mu’akkadah.
      Sebaiknya jika mampu tetap melaksanakan aqiqah dalam rangka rasa syukur kepada Allah Ta’ala dan keluar dari ranah khilaf in syaa Allah lebih selamat . Allahua’lam

  • Abu tamara says:

    Bismillah,,afwan ustazd,,ada pertanyaan lagi,,
    1. Apa arti dan makna taqwa dengan sebenar benarnya taqwa
    2.Apakah ada ulama ahlul sunnah,,yang menyampaikan tentang ciri ciri orang yg bertaqwa itu ada lima ciri,,,
    Mohon penjelasan,,Barakallahufiik,,

    • Al Lijazy says:

      Bismillah, Ashsholaatu wassalaaamu ‘ala Rasulillah wa man waalahu
      Takwa (taqwa) ssecara bahasa arab berasal dari kata waqa-yaqi-wiqayah yang artinya memelihara, yakni menjaga diri agar selamat dunia dan akhirat, persisnya memelihara diri dari siksaan Allah SWT, yaitu dengan mengikuti segala perintah-Nya dan menjauhi segala larangan-Nya (Imtitsalu awamirillah wajtinabu nawahihi).

      Salah satu makna At Taqwa adalah apa yang disabdakan dari Rosulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam, bahwasanya:
      < < لا يبلغ العبد أن يكون من المتقين حتى يدع ما لا بأس به حذرا مما به بأس >>
      ” Bahwasanya seorang hamba, tidaklah akan bisa mencapai derajat ketaqwaan sehingga ia meninggalkan apa yang tidak dilarang, supaya tidak terjerumus pada hal- hal yang dilarang ” ( Hadist ini Hasan, diriwayatkan oleh Tirmidzi no : 2451 , Ibnu Majah no : 4215, Baihaqi : 2/ 335) .
      Diriwayatkan pula bahwa pada suatu ketika Umar bin Khattab bertanya kepada Ubay bin Ka’ab tentang Taqwa . Ubay balik bertanya : ” Apakah anda pernah melewati jalan yang banyak durinya ” ? ” Pernah ” Jawab Umar. Ubay bertanya kembali : ” Bagaimana ketika anda melewatinya ” ? Umar menjawab : ” Saya bersungguh- sungguh serta berhati- hati sekali supaya tidak kena duri ” . Ubay akhirnya mengatakan : ” Itulah arti Taqwa yang sebenar- benarnya. ”
      Dari hadist dan Atsar diatas,kita bisa menyimpulkan , bahwa hakikat taqwa adalah kesungguhan dan kehati-hatian terhadap apa yang dilarang Allah swt. Orang yang bertaqwa adalah orang yang sungguh –sungguh untuk menjauhi segala larangan Allah dan berhati- hati sekali supaya tidak terjerumus di dalamnya, walaupun untuk menuju kepada ketaqwaan tersebut , kadang- kadang ia harus meninggalkan apa yang tidak dilarang, jika hal tersebut akan menyeretnya kepada apa yang dilarang. Allahua’lam
      Kedua,tentang ciri-ciri orang bertaqwa memang sebagian Ulama’ menyebutkannya, tapi tidak hanya lima melainkan banyak sekali, bahkan mereka menyebutkan cirri orang bertaqwa yang dobutkan secara garis besar dalam al Quran saja kurang lebih ada 20 an ciri, lainnya ada yang menyebutkan 38 ciri, dan tentunya kalau di sebutkan secara terperinci in syaa Allah akan lebih banyak dari jumlah itu. Allahua’lam, wa fiikal barokah

  • Abu tamara says:

    Bismillah,,syukran kastiran atas jawabanya pak ustadz,,Jazakallahu wabarakallahu fiik

  • Hamba Allah says:

    Assalamu’alaikum ustadz, mau bertanya bagaimana hak n kewajiban anak terhadap ibu. Karena ibu yg dulunya baik sekarang berubah karena pengaruh zaman. Misalnya saja dengan pengaruh handphone dan teman”nya menjadi tidak baik yaitu cepat tersinggung, lbh suka bermain handphone dari pd kumpul dengan keluarga, sering berkumpul dgn yg bukan mahrom dan chat dgn yg bukan mahrom dll. Sy sudah beberapa kali mengingatkan, tp malah dibalas kata2 yg g baik. Saya harus gimana ustadz?, smentara sy takut keluarga sy tidak bs berkumpul lagi d surga dan sy takut dgn sy menasihatu malah ibu sy benci ke sy lalu sy jadi dosa ( karena ibu sy cepat nangis, dikasih tau dikit lalu nangis, tapi tetap tdk berubah). Sy sudah bilang pd paman dan kk, mereka sudah menasihati, tapi ibu malah merasa sy yg menyuruh mereka untuk menasihatinya.
    Karena ada handphone ibu sy berubah pesat, dan sy merasa bersalah karena sy yg memberikan hp dgn niat biar mudah komunikasi, tapi nyatanya berdampak buruk. Mohon sarannya ustadz….

    • Al Lijazy says:

      Bismillah, wa’alaikum salaam warahmatullah
      Jika anda bertanya tentang kewajiban anda terhadap orang tua, hal tersebut adalah birrul walidain. Pengertian birrul wâlidain (berbakti kepada kedua orang tua) ialah mencurahkan seluruh jenis kebaikan bagi mereka. Syaikh al-’Utsaimîn rahimahullâh memaparkannya dalam bentuk-bentuk berikut ini:
      1. Berbakti kepada orang tua dalam bentuk ucapan.
      Allâh Ta’âla berfirman:
      إِمَّا يَبْلُغَنَّ عِنْدَكَ الْكِبَرَ أَحَدُهُمَا أَوْ كِلَاهُمَا فَلَا تَقُلْ لَهُمَا أُفٍّ وَلَا تَنْهَرْهُمَا وَقُلْ لَهُمَا قَوْلًا كَرِيمًا
      “….. Jika salah seorang di antara keduanya atau kedua-duanya sampai berumur lanjut dalam pemeliharaanmu, maka sekali-kali janganlah kamu mengatakan kepada keduanya perkataan “Ah” dan janganlah kamu membentak mereka. Ucapkanlah kepada mereka perkataan yang mulia” [Al-Isrâ`/17:23]
      Ini perlakuan saat orang tua telah berusia uzur. Biasanya ketika telah memasuki usia senja (pikun), tindak-tanduk orang tua tampak tidak normal di hadapan orang lain. Walaupun demikian, Allâh Azza wa Jalla memerintahkan: “maka sekali-kali janganlah kamu mengatakan kepada keduanya perkataan ‘Ah’)”, maksudnya jangan berbuat seperti itu kepada mereka disebabkan kegusaran atas tindak-tanduk mereka (dan janganlah kamu membentak mereka dan ucapkanlah kepada mereka perkataan yang mulia).
      2. Bakti kepada orang tua juga dalam bentuk perbuatan, yaitu dengan cara seorang anak menghinakan diri di hadapan orang tuanya, dan tunduk patuh kepada mereka dengan cara-cara yang dibenarkan syariat dalam rangka menghormati kedudukan mereka. Allâh Azza wa Jalla berfirman:
      وَاخْفِضْ لَهُمَا جَنَاحَ الذُّلِّ مِنَ الرَّحْمَةِ وَقُلْ رَبِّ ارْحَمْهُمَا كَمَا رَبَّيَانِي صَغِيرًا
      “Dan rendahkanlah dirimu terhadap mereka berdua dengan penuh kesayangan dan ucapkanlah: “Wahai Rabbku, kasihilah mereka keduanya, sebagaimana mereka berdua telah mendidik aku waktu kecil”” [Al-Isrâ`/17:24]
      3. Berbakti juga dapat dilakukan dengan pemberian materi kepada orang tua.
      Orang tua berhak memperoleh infak dari anaknya. Bahkan ini termasuk bentuk infak yang agung. Sebab Rasûlullâh shallallâhu ‘alaihi wa sallam bersabda:
      أَنْتَ وَمَالُكَ لِأَبِيْكَ
      ” Engkau dan kekayaanmu adalah milik bapakmu” [HR. Abu Dâwud no. 3530, Ibnu Mâjah no. 2292]
      4. Bentuk bakti kepada orang tua yang lain, dengan melayani mereka dalam menyelesaikan atau membantu urusan maupun pekerjaan mereka. Namun bila meminta tolong dalam perkara yang diharamkan, saat itu tidak boleh bagi anak untuk menyambut permintaan mereka. Justru, penolakannya menjadi cermin bakti anak kepada orang tua, berdasarkan sabda Rasûlullâh shallallâhu ‘alaihi wa sallam :
      انْصُرْ أَخَاكَ ظَالِـمًا أَوْ مَظْلُومًا قَالُوا يَا رَسُولَ اللهِ هَذَا نَنْصُرُهُ مَظْلُومًا فَكَيْفَ نَنْصُرُهُ ظَالِـمًا قَالَ تَـمْنَعُهُ مِنَ الظُّلْمِ
      “Tolonglah saudaramu saat berbuat zhalim atau teraniaya. Rasûlullâh shallallâhu ‘alaihi wa sallam ditanya: “Wahai Rasulullah, kalau menolong orang yang teraniaya kami sudah mengerti, bagaimana dengan menolong saudara yang berbuat zhalim?” Beliau shallallâhu ‘alaihi wa sallam menjawab: “Dengan menghalang-halanginya berbuat zhalim”. [HR Al-Bukhâri, Muslim dan Ahmad]
      Misalnya, orang tua memerintahkan membeli sesuatu yang diharamkan, kemudian si anak menolaknya. Anak ini tidak disebut sebagai anak durhaka, akan tetapi merupakan putra yang berbakti kepada orang tuanya, karena telah menahan orang tuanya dari berbuat yang haram.
      Tentang masalah anda intinya anda menghadapi orang tua yang berma’siyat, lantas bagaimana seharusnya sikap anda sebagai anak?
      Dalam hal ini kita dapatkan fatwa dari Syeikh bin Baz rahimahullah tentang bersikap kepada orang tua yang berma’siyat, beliau menjelaskan bahwasannya: “Allah Jalla Wa ‘Alaa berfirman dalam Al Qur’an Al Karim,
      أَنِ اشْكُرْ لِي وَلِوَالِدَيْكَ إِلَيَّ الْمَصِيرُ * وَإِن جَاهَدَاكَ عَلى أَن تُشْرِكَ بِي مَا لَيْسَ لَكَ بِهِ عِلْمٌ فَلَا تُطِعْهُمَا وَصَاحِبْهُمَا فِي الدُّنْيَا مَعْرُوفًا
      “Bersyukurlah kepada-Ku dan kepada dua orang ibu bapakmu, hanya kepada-Kulah kembalimu. Dan jika keduanya memaksamu untuk mempersekutukan dengan Aku sesuatu yang tidak ada pengetahuanmu tentang itu, maka janganlah kamu mengikuti keduanya, dan pergaulilah keduanya di dunia dengan baik” (QS. Luqman: 14-15)
      ayat ini menjelaskan bahwa kedua orang tua musyrik yang memerintahkan anaknya untuk berbuat musyrik. Namun Allah Ta’ala berfirman:
      وَصَاحِبْهُمَا فِي الدُّنْيَا مَعْرُوفًا
      “Dan pergaulilah keduanya di dunia dengan baik”

      Orang tua yang musyrik yang memerintahkan anaknya berbuat syirik namun tetap Allah Ta’ala memerintahkan anaknya untuk mempergaulinya dengan baik ( tentunya sesuai dengan batasan syar’i )
      Maka hendaknya anda bersabar, berbicaralah dengan orang tua anda dengan perkataan yang baik, doakan ia agar mendapat hidayah. Semisal anda mengatakan kepadanya ‘Hadaakallah‘ (Semoga Allah memberimu hidayah), atau ‘Afaakallah‘ (Semoga Allah memberimu kebaikan lahir batin), atau ‘Waffaqakallah‘ (Semoga Allah memberimu taufiq). Karena nyatanya ia bersikap demikian kepada anda dan juga kepada orang lain. Maka sudah semestinya anda bersabar dan tidak menghadapi ujian ini kecuali dengan kesabaran.
      Bertutur-katalah sesuai dengan yang diperintahkan Allah Ta’ala:
      وَصَاحِبْهُمَا فِي الدُّنْيَا مَعْرُوفًا
      “Dan pergaulilah keduanya di dunia dengan baik”
      Andaikan ia tidak menunaikan shalat, maka ia diperlakukan sama seperti orang tua yang musyrik, yaitu sebagaimana firman Allah Ta’ala tersebut.
      Bimbing dan tuntunlah ia ke jalan hidayah, dengan doa anda. Berdoalah kepada Allah di waktu-waktu yang mustajab untuk berdoa. Mintalah agar Allah melimpahkan hidayah kepadanya, melindunginya dari godaan setan, memberinya rahmat, agar ia luluh terhadap anak-anaknya, agar ia diberi taufiq untuk berbakti kepada orang tua dan doa yang lainnya.
      Wajib bagi anda untuk bersabar dan memperlakukannya dengan baik serta mendoakan agar ia mendapatkan hidayah. Hendaknya anda juga mengusahakan cara-cara yang bisa menjadi sebab datangnya hidayah, misalnya dengan menyarankan teman dan kerabat baiknya untuk menasehatinya, atau cara-cara baik yang lain. Semoga Allah membalas kebaikan anda dan memberikan hasil yang baik bagi anda.” Allahua’lam
      Sumber: http://www.binbaz.org.sa/mat/19867

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *