Hukum asal perkara yang bermanfaat dan baik adalah halal, dan hukum asal perkara yang bermudarat dan buruk adalah haram. Segala sesuatu di dalam urusan keduniaan, hukum asalnya adalah halal dan boleh bagi kaum mukminin, kecuali apa yang dilarang atau jelas mengandung kemudaratan. Allah Taala berfirman, “Dia-lah Allah, yang menjadikan segala yang ada di bumi untuk kamu.” (QS. al-Baqarah: 29) Maka segala sesuatu yang bermanfaat bagi ruh dan badan, baik berupa makanan, minuman ataupun pakaian, dihalalkan oleh Allah Azza wa Jalla, dengan tujuan untuk membantu seorang hamba menunaikan perintah Allah. Allah Taala berfirman, “Hai sekalian manusia, makanlah yang halal lagi baik dari apa yang terdapat di bumi, dan janganlah kamu mengikuti langkah-langkah syaitan; karena sesungguhnya syaitan itu adalah musuh yang nyata bagimu.” (QS. al-Baqarah: 168)

Allah telah menghalalkan bagi kaum muslimin segala hal yang baik, dan mengharamkan segala hal yang buruk. Allah Taala berfirman, “.. dan Allah menghalalkan bagi mereka segala yang baik dan mengharamkan bagi mereka segala yang buruk..” (QS. al-A’raaf: 157)

 

Pengaruh Makanan Terhadap Manusia

Makanan yang dikonsumsi oleh seseorang akan berpengaruh terhadap akhlak dan perilakunya. Makanan yang baik akan memberi pengaruh yang baik. Makanan yang buruk akan memberi dampak yang buruk. Maka dari itu, Allah memerintahkan hamba-hamba-Nya untuk makan dan berinfak dengan sesuatu yang baik, dan melarang mereka menyantap makanan yang buruk. Allah Taala berfirman, “Hai orang-orang yang beriman, makanlah di antara rezeki yang baik yang Kami berikan kepadamu dan bersyukurlah kepada Allah, jika benar-benar kepada-Nya kamu menyembah.” (QS. al-Baqarah: 172)

 

Hukum Asal Makanan dan Minuman

Makanan dan minuman hukum asalnya adalah halal bagi kaum mukminin dan tidak halal bagi orang-orang kafir. Sehingga dibolehkan bagi kaum mukminin untuk mengkonsumsi semua makanan atau minuman yang suci dan tidak bermudarat, baik berupa daging, buah-buahan, kurma, air, madu, susu dan sebagainya.

Sedangkan untuk orang-orang kafir, makanan, minuman dan segala perkara yang bermanfaat adalah haram. Karena Allah menciptakan semua itu untuk orang-orang yang beriman dan menaati-Nya. Oleh karena itu, tidaklah seorang yang kafir menyuap satu makanan ke mulutnya, minum seteguk air, mengenakan satu pakaian, mengendarai satu kendaraan, menempati satu rumah, atau menikmati karunia Allah lainnya, melainkan pada hari kiamat nanti ia akan diberi hukuman.

Allah Taala berfirman, “Katakanlah: “Siapakah yang mengharamkan perhiasan dari Allah yang telah dikeluarkan-Nya untuk hamba-hamba-Nya dan (siapa pulakah yang mengharamkan) rezeki yang baik?” Katakanlah: “Semuanya itu (disediakan) bagi orang-orang yang beriman dalam kehidupan dunia, khusus (untuk mereka saja) di hari kiamat.” Demikianlah Kami menjelaskan ayat-ayat itu bagi orang-orang yang mengetahui.” (QS. al-A’raaf: 32)

Dan tidaklah seorang yang kafir meninggalkan suatu kewajiban atau mengerjakan suatu larangan Allah, melainkan ia akan dihisab pada hari kiamat. Allah Taala berfirman, “Maka demi Tuhanmu, Kami pasti akan menanyai mereka semua tentang apa yang telah mereka kerjakan dahulu.” (QS. al-Hijr: 92-93)

Allah tidak menghalalkan benda-benda najis, seperti bangkai, darah yang tercurah, dan daging babi. Allah juga tidak menghalalkan barang-barang yang mengandung kemudaratan, seperti racun, khamer, tembakau dan semisalnya. Sebab barang-barang ini berbahaya bagi jasmani, harta dan akal manusia. Tidaklah Allah menghalalkan sesuatu melainkan Dia juga memudahkan manusia untuk mendapatkannya. Dan tidaklah Allah mengharamkan sesuatu melainkan Dia juga memberi manusia ganti yang lebih baik.

Allah Taala berfirman, “Diharamkan bagimu (memakan) bangkai, darah, daging babi, (daging hewan) yang disembelih atas nama selain Allah, yang tercekik, yang terpukul, yang jatuh, yang ditanduk, dan diterkam binatang buas, kecuali yang sempat kamu menyembelihnya, dan (diharamkan bagimu) yang disembelih untuk berhala…” (QS. al-Maaidah: 3)

Allah juga berfirman, “Hai orang-orang yang beriman, sesungguhnya (meminum) khamar, berjudi, (berkorban untuk) berhala, mengundi nasib dengan panah, adalah termasuk perbuatan syaitan. Maka jauhilah perbuatan-perbuatan itu agar kamu mendapat keberuntungan. Sesungguhnya syaitan itu bermaksud hendak menimbulkan permusuhan dan kebencian di antara kamu lantaran (meminum) khamar dan berjudi itu, dan menghalangi kamu dari mengingat Allah dan shalat; maka berhentilah kamu (dari mengerjakan pekerjaan itu).” (QS. al-Maaidah: 90-91)

 

Macam-macam Makanan

Makanan dan minuman yang hukum asalnya adalah boleh, ada tiga macam: tumbuhan, hewan dan cairan.

Yang pertama, tumbuhan. Ia dapat berupa biji-bijian, seperti beras, kacang, jagung dan semisalnya; atau berupa sayur-sayuran, seperti tomat, terong, timun dan semisalnya; atau berupa buah-buahan, seperti pisang, apel, mangga dan semisalnya. Semua ini adalah halal. Allah Taala berfirman, “Hai orang-orang yang beriman, nafkahkanlah (di jalan Allah) sebagian dari hasil usahamu yang baik-baik dan sebagian dari apa yang Kami keluarkan dari bumi untuk kamu. Dan janganlah kamu memilih yang buruk-buruk lalu kamu menafkahkan daripadanya, padahal kamu sendiri tidak mau mengambilnya melainkan dengan memincingkan mata terhadapnya. Dan ketahuilah, bahwa Allah Maha Kaya lagi Maha Terpuji.” (QS. al-Baqarah: 267)

Kurma termasuk makanan yang paling baik. Ia dapat menjadi penangkal racun dan sihir. Kurma yang paling utama adalah kurma Madinah. Diriwayatkan dari Saad bin Abi Waqqash radhiyallahu anhu, dia berkata, Rasulullah shallallahu alaih wa sallam bersabda, “Barangsiapa yang setiap pagi hari membiasakan diri memakan tujuh buah kurma ‘Ajwah, maka racun ataupun sihir tidak bisa membahayakannya pada hari itu.” (Muttafaqun ‘alaih) Kurma juga berfaidah untuk menguatkan hati, melembutkan watak, dan menurunkan tekanan darah. Ia termasuk buah yang banyak mengandung gizi. Dengan begitu, kurma adalah buah, makanan, sekaligus obat.

 

Yang kedua, hewan. Ia dapat berupa hewan laut, hewan darat atau burung. Makanan berupa hewan ini dapat dirinci sebagaimana berikut:

  • Hewan darat semuanya halal kecuali binatang buas dan yang dikelompokkan ke dalamnya. Dengan begitu, binatang ternak seperti unta, sapi dan kambing adalah boleh. Demikian pula keledai liar, kuda, sapi liar, rusa, kelinci, jerapah dan binatang-binatang liar lainnya kecuali yang memiliki taring untuk memburu/memangsa.
  • Semua jenis burung boleh dimakan kecuali yang memiliki kuku cengkram untuk memburu/memangsa, atau yang memakan bangkai. Maka dibolehkan memakan ayam, bebek, angsa, burung merpati, burung merak dan semisalnya. Allah Taala berfirman, “Hai sekalian manusia, makanlah yang halal lagi baik dari apa yang terdapat di bumi, dan janganlah kamu mengikuti langkah-langkah syaitan..” (QS. al-Baqarah: 168)
  • Binatang-binatang laut yang hanya hidup di laut semuanya halal, baik yang kecil ataupun yang besar. Semuanya dihalalkan tanpa ada pengecualian. Allah berfirman, “Dihalalkan bagimu binatang buruan laut dan makanan (yang berasal) dari laut sebagai makanan yang lezat bagimu, dan bagi orang-orang yang dalam perjalanan.” (QS. al-Maaidah: 96)

 

Binatang dan burung yang diharamkan:

  • Binatang yang diharamkan adalah yang disebutkan keburukannya oleh syariat, seperti keledai peliharaan, babi dan semisalnya. Atau jenis hewan yang terlarang seperti binatang buas yang bertaring, dan burung yang berkuku cengkeram. Atau yang keburukannya sudah diketahui secara umum seperti tikus, kecoa dan semisalnya. Atau memiliki keburukan karena suatu sebab dari luar, seperti binatang Yaitu binatang yang memakan najis atau sampah. Atau binatang yang diperintahkan oleh syariat untuk dibunuh, seperti ular dan kalajengking. Atau yang dilarang dibunuh, seperti kodok, semut, lebah, burung hud-hud. Atau terkenal sebagai pemakan bangkai seperti burung gagak. Atau karena ia mati tidak dengan sembelihan yang syar’i. Atau binatang yang tidak boleh dimakan karena hasil curian, atau makanan yang mengandung racun.

 

 

Silahkan Download File Pdf: Download

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *